Domestifikasi Perempuan: Menelusur Memori Kolektif dari Memori Media

Jelang lebaran dan sesudah lebaran, di Indonesia, mayoritas Ibu memperkerjakan asisten rumah tangga (ART) kerap kali mengalami keletihan melampaui  hari-hari biasanya.  Hal tersebut dikarenakan berlipatnya pekerjaan yang harus dilakukan oleh para ibu. Jika biasanya pekerjaan rumah tangga ada yang membantu, ketika jelang lebaran atau sesudah lebaran maka para ibu harus menyingsingkan lengan lebih tinggi. Jika memiliki rejeki lebih maka para ibu tersebut dapat memilih memperkerjakan ART infal atau penganti dengan upah yang berkali lipat lebih mahal. Mengapa hal terjadi? Hal tersebut karena adanya pemisahan pekerjaan rumah tangga yang lebih tertumpu pada kaum ibu.  Pekerjaan rumah tangga ternyata bukan sesuatu yang netral gender. Pekerjaan mencuci mobil, membetulkan atap rumah misalnya adalah pekerjaan laki-laki. Pekerjaan memasak, menyapu, mengepel, menyuci dan menyetrika pakaian adalah pekerjaan wanita. Jadi bisa dibayangkan bukan betapa pekerjaan perempuan bukanlah sesuatu yang ringan? Lantas sejak kapankah pemahaman domestifikasi perempuan itu terjadi?

Untuk dapat menjawab hal tersebut salah satu caranya adalah dengan melakukan penelitian telusur sejarah terhadap media yang dikenal dengan memori media.  Kajian tentang memori media merupakan sebuah kajian turunan dari penelitian media dengan multidisiplin dan interdisiplin. Memori media memiliki konsep teoritis dan analitisnya yang bersifat kompleks. Salah satu fungsi dari kajian memori media adalah untuk mempelajari fungsi media sebagai memory agents. 

Domestifikasi perempuan tanpa disadari di masa lalu terus menerus diwariskan melalui berbagai media.  Salah satu media yang mewariskan domestifikasi perempuan adalah media film.  Salah satu domestifikasi adalah mewariskan pemahaman bahwa mengasuh anak adalah “pekerjaan wanita”. Setidaknya itulah yang saya pahami dari film “The Sound of Music” – salah satu film layar lebar favorit saya semasa saya kecil.

the sound of music
Salah satu adegan film The Sound of Music yaitu saat suster Maria mendongeng kepada ke-7 anak Kapten Von Trapp menjelang tidur. Foto diambil dari sini

Film The Sound of Music  adalah film musikal tahun 1965 yang diangkat dari buku Maria Von Trapp yang berjudul The Von Trapp Family Singers.  Bagi saya pribadi film  The Sound of Music mampu mempolitisir pemikiran saya yang masih kecil bahwa mengasuh anak adalah tugas seorang ibu, karenanya ketika seorang Ibu meninggal dunia – ibu dari ke-7 anak Kapten Von Trapp, maka secara dicarilah penganti yang bertugas melaksanakan tugas seorang Ibu – yang dalam film The Sound of Music Suster Kepala meminta suster Maria untuk mengasuh ke-7 anak dari Kapten Von Trapp. Tapi, itu adalah film di tahun 1965. Yang artinya menjadi menarik ketika kita melakukan bagaimana praktik-praktik pelanggengan domistifikasi perempuan terjadi melalui pelangenggan memori kolektif yang dilakukan dengan mengunakan media. Menariknya studi untuk mengetahui pergeseran pemikiran tentang domistifikasi perempuan juga dapat dilakukan dengan cara studi media yaitu dengan cara melihat bagaimana sebuah “ideologi” atau pemikiran tentang domestifikasi perempuan – bahwa mengasuh adalah tugas perempuan, membersihkan rumah, memasak adalah tugas perempuan dapat dilakukan antara lain dengan cara melakukan  penelitian studi media antara lain dengan membedah dengan mengunakan perspektif feminisme misalnya tentang bagaimana film-film dari periode ke periode mengambarkan tentang satu isu (:domestifikasi perempuan).

Salah satu contoh menarik adalah gambaran yang menarik dari sebuah miniseri Korea Selatan yang berjudul Prime Minister and I. Pada salah satu adegan dalam miniseri yang sukses di Korea Selatan dan sejumlah negara lainnya tersebut digambarkan bagaimana seorang Perdana Menteri  Korea yang sibuk, tegas dan terkesan dingin – yang kehilangan istrinya dalam sebuah kecelakaan pada suatu waktu dapat berperan menjadi ibu untuk ketiga anaknya.

Melawan Domestifikasi Perempuan
Salah satu adegan “Prime Minister and I” menampilkan Perdana Menteri Kwon Yool mengenakan celemek berwarna pink muda sedang memasak untuk ketiga anaknya. Foto diambil dari sini

Adegan itu bagi saya menjadi menarik, karena dari beberapa tayangan yang sempat saya ikuti secara khusus melalui KBS World, Perdana Menteri Kwon Yool digambarkan sebagai politisi yang tegas – namun dengan satu adegan dia mengunakan celemek berwarna pink muda menunjukkan miniseri ini tanpa kita sadari tengah mengeser pemikiran domestifikasi perempuan. Pergeseran pemikiran tentang domestifikasi perempuan dalam sejumlah karakter miniseri Korea yang muncul pada tahun 2012 msalnya melalui karakter dokter Kang Mo Yeon dalam Descendants of The Sun yang digambarkan sebagai sosok wanita mandiri yang berprofesi sebagai dokter bedah dan bercita-cita menjadi dokter bedah yang hebat. Menariknya bahkan sebagai dokter bedah dia tidak mempermasalahkan penghasilan pria yang nantinya akan dia nikahi atau melalui karakter Han Da Jin – yang dikisahkan sebagai pilot wanita yang gigih dalam film Take Care of Us, Captain! yang tayang tahun 2012. Han Da Jin gigih mewujudkan cita-citanya menjadi pilot meski ia harus menjadi “orang tua tunggal” setelah meninggalnya ayahnya dan ibunya yang meninggal sejak melahirkan adiknya ditambah beban bibinya yang gemar bermain judi.

Take-Care-of-Us-Captain-7
Han Da Jin, salah satu karakter dalam Take Care Of Us, Captain! Salah satu drama Korea yang “melawan” domestifikasi perempuan. foto diambil dari sini

Meski demikian dari foto tampak bukan bahwa Han Da Jin merupakan minoritas? Miniseri tersebut hanyalah satu dari sekian banyak contoh miniseri Korea yang menghadirkan sosok wanita tangguh yang diputar pada tahun 2010 ke atas. Selain kedua contoh drama tersebut ada juga Sungkyunkwan Scandal – yang dirilis pada tahun 2010. Sungkyunkwan menceritakan tentang Kim Yoo Hee, seorang perempuan pemberani dan cerdas yang mampu masuk ke Sungkyunkwan University yang ada di era Joseon. Sungkyunkwan University adalah sekolah khusus para bangsawan guna menjadi pegawai pemerintahan. Menarik bukan? Namun akan lebih menarik lagi jika kita melakukan studi media untuk mengetahui bagaimana pergeseran pemikiran tentang domestifikasi perempuan dengan cara melakukan studi terhadap memori media.

Referensi:

Media Remembering: the Contributions of Life-Story Methodology to Memory/Media Research Bourdon, Bab 4 dalam dalam On Media Memory Collective Memory in a New Media Age, 2011

Advertisements

Astaga! Suamiku ingin Pakai Gamis!

Kamis libur Waisak kemarin, saya dan suami berjalan-jalan di pusat perbelanjaan. Mendadak suami saya berhenti di sebuah counter merk tertentu dan menunjuk sebuah gamis pria yang terpanjang.

“Lihat dong Mas yang itu,” pinta suami. “Bahannya halus banget,” komen suami dengan nada bersemangat.

“Pa yakin mau beli ini?” tanya saya hati-hati. “Kenapa Ma, kemahalan ya?” suami balik bertanya. Bilangan harganya memang bikin pusing kepala, Rp.400 ribu kurang sekian ribu. Tapi rasanya tak pantas sebagai istri saya keberatan mengingat suami memberi begitu banyak lembaran berwarna merah sepulang mengikuti tugas luar kota beberapa hari. “Bukan karena harganya.. yakin Pa mau pake gamis kayak gini di Jakarta? Di Petamburan sih masih oke.. lhah kalau di lingkungan rumah? atau di kantor? Apa kata tetangga Pa? Kalau pakai gamis di Lombok sih oke-oke aja.. kalau di Jakarta?” bisik saya pelan. Saya lantas mengambil satu celana jeans dengan merk yang sama, “mendingan beli ini saja Pa,” bujuk saya.

Suami saya tertawa kecil, “Ternyata istriku belum siap ngeliat suaminya pakai gamis,” candanya. “Bukan gitu Pa.. apa ga aneh pakai gamis gitu .. ntar disangka FPI lagi, disangka Islam radikal,” seloroh saya. Suami saya sembari tertawa mengembalikan gamis itu ke mas penjual. Lalu mengambil celana dari jeans berwarna coklat lengkap dengan banyak kantong ala pendaki gunung yang saya sodorkan. “Jadinya ambil ini saja, Mas,” katanya. Lalu menatap dengan pandangan mengoda ke arah saya,”istriku ternyata belum siap melihat suaminya pakai gamis..” godanya.

Mendadak saya merasa tertampar membaca buku Mythologies – Roland Barthes. Ternyata saya sudah terperangkap mitos tentang gamis pria. Tayangan berita-berita belakangan ini di TV seolah memenjarakan makna gamis pria sebagai Islam Radikal.. Gamis ya FPI.. Gamis ya Habib Rizieq. Itulah ingatan yang melintas di kepala saya. Merasa tertampar sih iya, tapi apakah saya kemudian siap membayangkan penampakan suami saya saat mengenakan gamis?

Bahan Bacaan:

Roland Barthes, Mythologies

https://soundenvironments.files.wordpress.com/2011/11/roland-barthes-mythologies.pdf

#SIK041

Mainan

Saya, suami dan puteri ke-3 berada di satu gerai waralaba. Bocah perempuan itu mendekati suami saya dan berbisik-bisik. Tak lama kemudian suami mendekati saya.

“Putri pengin beli mainan, tapi khawatirnya Ma ga bolehin,” kata suami. Sudah biasa, suami selalu menjadi jembatan antara saya dengan anak-anak. “Emangnya mahal banget harga mainannya? Kenapa ga ngomong sama aku sendiri?” tanya saya. “Bukan itu.. janji ya Ma ga boleh marah, Ayo Putri bilang sendiri sama mama,” kata suami saya memberi semangat. Sambil tetap memegang tangan suami saya, Putri pun berkata,”Aku pengin dibelikan pistol-pistolan.. Mama ga marah kan? Bolehkan?” tanyanya dengan hati-hati.

“Beli pistol-pistolan?” tanya saya sedikit terkejut. Selintas saya melihat tatapan suami saya yang menyuruh saya langsung mengiyakan.  “Boleh kok.. ” jawab saya. Putri ketiga saya pun langsung menghilang diantara rak-rak besi dan kembali dengan sepucuk pistol mainan.

Astaga, ternyata beginilah rasanya ketika kita terjebak mitos-mitos. Bocah perempuan ya mainannya boneka. Kini saya jadi paham ketika Mami mengeryitkan wajah dan akhirnya marah ketika saya waktu SD membawa pulang ular sawah ke rumah. Ular tersebut akhirnya dilempar ke api sampah yang dibakar. Sebagai gantinya saya dibelikan anjing dan kucing anggora.

#SIK041

Janda – Satu Kata dengan 1000 Lebih Makna

Menjadi Janda? Can You Die of a Broken Heart? 

Rasanya tidak tahu harus memulai darimana untuk menulis tentang satu kata “janda”. Hanya satu kata namun beribu mitos yang melingkupinya, tanpa sadar membuat saya menarik nafas panjang berulang kali – padahal tepat di sisi saya saat menulis suami saya sedang terlelap dalam tidurnya.  Satu kata, yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti wanita yang tidak bersuami lagi karena bercerai ataupun karena ditinggal mati suaminya.

Janda, satu kata yang seharusnya sama statusnya dengan status yang nyaris serupa “duda”. Tapi entah kenapa menjadi janda rasanya jauh lebih menyakitkan karena  berbagai mitos yang melekat dalam pemaknaan kata janda di masyarakat kita. Sistem pemaknaan tataran ke-dua, yang dibangun di atas sistem lain yang telah ada sebelumnya. sistem ke-dua yang  oleh Barthes disebut dengan konotatif.

Pernahkah anda merasakan suatu ketika teman-teman anda mendadak menjaga jarak? Atau sahabat karib dari semasa SMA anda mendadak meletakkan jari telunjukkan saat dalam perjalanan pulang buka puasa bersama, karena searah anda nebeng ke mobilnya dan dia berkata sesudahnya,”Maaf ya, bisa pecah perang dunia kalau istriku sampai tahu aku nganterin kamu. Tahu kan istriku orangnya cemburuan,” ujarnya.

Pernahkah anda merasakan, suatu saat anda mendadak jadi kehilangan harga diri begitu drastis? Dengan mudah – maaf – orang mengajak “tidur bareng” meski hijab kita kenakan? Kekerasan simbolis bertubi-tubi itulah yang sempat terbayang begitu menakutkan hingga saya pun sempat meminta dipoligami saja daripada harus diceraikan. Tak hanya itu dengan tiga putri yang kala itu masih menjelang ABG dan masih balita bukan perkara yang mudah.  Meski saya seorang muslimah – namun kerap ajaran semasa saya kecil “apa yang satukan Tuhan tak bisa dipisahkan oleh manusia” bukan perkara yang mudah. Namun bukan hanya itu yang menyebabkan saya bersikukuh memilih dipoligami waktu itu – belasan tahun dibesarkan seorang Janda karena ayah saya meninggal dunia saat saya duduk dibangku SMA dan 3 putri saya merupakan alasan yang cukup kuat membayangkan betapa tidak enaknya menyandang status “janda cerai hidup”. Malang tak dapat ditolak, ketika status janda terpaksa disandang, demi “keamanan” saya tidak pernah merubah status di KTP saya ketika Pengadilan Tinggi Agama sudah mengeluarkan surat keputusannya. Hingga bertahun-tahun saya memilih tetap menjadi “istri” diatas kertas Kartu Keluarga dan KTP pria yang sudah menikah dengan wanita pujaan hatinya yang lebih muda 10 tahun dari saya dan mereka pun bahagia dengan kelahiran putri mereka. Menyakitkan? Tidak juga. Karena ada begitu banyak yang jauh lebih menyakitkan dari itu. Misalnya.. “Oh janda cerai ya.. pasti orangnya keras kepala..” atau “Oh janda cerai hidup ya,, pasti galak orangnya. Kalau ga ngapain suaminya pergi” atau “Janda cerai? Pasti orangnya ga bisa menghormati suaminya.” entahlah.. Can You Die of a Broken Heart? Bisik batin saya separuh menghibur. Tenang saja, hancurnya perasaan tidak akan membunuhmu bukan?

Hingga suatu hari…. satu persatu putri saya mendorong saya untuk menikah lagi. Ada menyodorkan album pernikahan saya dan ayahnya. Dia membuka satu persatu. “Mama nggak pengin nikah lagi? Asik lho Ma, kalau Mama nikah lagi, nanti pakai pakaian nikah yang lebih bagus dari ini Ma, pasti Mama cantik banget deh,” ujarnya. Lalu dua lainnya sengaja membuat masalah sehingga salah satu guru pria mereka terpaksa datang ke rumah. Bayangkan betapa gugupnya saya “terpaksa” menerima tamu laki-laki setelah sekian tahun rumah tidak dijamah tamu laki-laki. Senyum badung puteri-putri saya menyadarkan saya akan apa yang mereka harapkan. Belum lagi kedua orang tua saya yang terus menerus mendesak agar saya menikah lagi. “Anak-anak biar tinggal di Semarang aja. Orang serem kali kalau mau nikah sama kamu anaknya ngendeyot (:banyak beban hingga terhuyung) gitu,” usul Mami (almarhum waktu itu. Ustadzah demi ustadzah pun mengusulkan agar ketiga putri saya ikut ayahnya. “Karena menafkahi dan mengasuh tiga anak itu kewajiban ayah kandungnya dan istri si ayah, ” tegas mereka. Alasan lainnya banyak calon yang berminat memperistri saya tapi keberatan dengan ikutnya tiga putri saya.

Sementara menjadi janda adalah bermakna menerima “tikaman” demi “tikaman”. Tikaman yang paling menyakitkan adalah ketika keluarga besar menghubungkan dengan pilihan hidup saya terdahulu “Tuh kan, bener. Kalau masuk Islam ya begitu.. dipoligami, dicerai,” tutur seorang Bude yang sangat dekat dan sayang kepada saya. Saya sempat tinggal beberapa lama di rumah bude saya sebelum menikah. Semua karena makna konotatif yang jauh melampaui makna sebenarnya yaitu bercerai atau karena suaminya meninggal dunia.

Tapi itu dulu.. sekarang saya berhasil melepas status dengan 1000 lebih kisah duka itu – setidaknya hanya 2 hari saya berstatus “janda cerai hidup” di KTP saya. Tanggal 28 hari Jumat saya berhasil mengurus perubahan status menjadi “janda cerai hidup” dan Hari Minggu tanggal 30 saya melangsungkan pernikahan dengan seorang pemuda yang usianya 15 tahun lebih muda dari saya. Ups.. kembali lagi.. ternyata stereotype pria lebih menyukai daun muda tidak mutlak kebenarannya ya. Tapi tak berarti saya terlepas dari mitos-mitos yang mengerikan yang terbangun di benak mayoritas masyarakat. Contohnya ketika mendadak seorang pejabat mendadak memanggil saya dengan nada mengoda,”Pantes saja selama ini kamu anteng.. Nggak taunya kamu sukanya daun muda..” atau Mendadak seorang Ibu-ibu pejabat di kantor saya memanggil untuk berbincang-bincang dua mata,”Mbak yakin tidak membahayakan ketiga Putri Mbak dengan menikah dengan laki-laki yang 15 tahun lebih muda dari Mbak? Bayangkan selisih usia dengan anak tertua saja lebih dekat lho Mbak,” nasehatnya.  Kalimat “menikah dengan pria lebih muda 15 tahun” sebenarnya biasa saja jika tidak ada makna konotatif yang mendominasi pemikiran kita.

Pada akhirnya, saya hanya mampu bersyukur ketika melihat tawa merekah dari ketiga puteri saya.  Atau ucapan puteri pertama saya,”Woles aja kali Ma. Iya sih kakak diomongi, Papa kamu masih muda banget yah.. cuek aja kali,” katanyu.a. Berulang kali penugasan dari sekolah, puteri saya woles mencantumkan tanggal lahir suami saya lengkap dengan foto sebagai salah satu anggota keluarga. Mulai dari tugas bahasa Jepang, bahasa Inggris dan entah tugas apalagi. Saya pernah sekali menanyakan hal itu kepadanya. “Nggak masalah kah kak mencantumkan Pome (begitu anak-anak memanggil suami saya) dan tanggal lahirnya.?” tanya saya. “Dih mama apaan sih pake nanya gitu. Ya nggak masalah lah.. Pome kan memang suami Mama, ya anggota keluarga intilah. Wajib dimasukkan.Kakak malah berharap kelak kalau punya suami bisa sebaik Pome,” sahut bocah cepat.

Makna kata janda, bagi banyak orang bisa jadi bermakna negatif. Tapi bagi saya makna kata janda mengandung makna kekuatan yang tiada pernah mampu kita bayangkan. Perceraian sampai kapan pun akan menjadi momok yang menakutkan bagi wanita. Bukan karena sekedar makna berpisah – atau menjadi sendiri melainkan berbagai diskriminasi hingga pelecehan seksual sekalipun itu “hanya” berbentuk kata.

Lantas…. bagaimana kita sebagai pembaca memberikan makna kata “janda” saat ini? Meminjam kerangka berpikir Roland Barthes, konotasi identik dengan ‘mitos’ yang berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu. Mitos tersebut dibangun oleh suatu rantai pemberian makna yang telah ada sebelumnya atau yang disebut dengan sistem pemberian makna tataran kedua.

Apakah anda masih meletakkan stereotype negatif begitu mendengar kata janda? Ataukata apa yang berikutnya melintas dalam pemikiran kita begitu mendengar kata janda? Apakah yang terlintas berikutnya kalimat janda kembang, janda genit – atau kata lain misal dalam bahasa jawa misalnya yang terlintas kata rondo royal (janda yang kaya dan mudah memberikan harta) yang sebenarnya merupakan penyebutan salah satu makanan tradisional Jawa dari tape berisi coklat atau gula jawa.

Tidak heran jika kata berikut yang menyertai kata janda dalam ingatan kita adalah kata kembang. Jika kita mengeksplorasi peran media terhadap penggambaran terhadap pengetahuan mengenai minoritas dalam hal ini janda – maka peran media selain memori kolektif yang diwariskan turun temurun tanpa disadari termasuk melalui budaya adalah salah satu penyebab melekatnya stigma negatif tentang janda. Tenggoklah begitu banyak judul film tentang janda yang identik dengan genit dan berbagai stigma negatif lainnya.

Foto: Judul Bioskop Tentang Janda

janda

Tidaklah mengherankan apabila stereotype negatif terhadap kelompok-kelompok minoritas telah melekat dalam memori kita semua. Stereotype tersebut telah menjadi apa yang kita sebut di atas sebagai memori kolektif. Karena itu sudah saatnya kita memeriksa akar gambaran minoritas – baik itu janda – maupun kelompok minoritas lain yang kita miliki masing-masing. Bagaimana jika suatu hari suami kita pergi satu mobil berdua dengan seorang janda misalnya? Atau bagi kita yang memiliki anak laki-laki dewasa – single dan mapan mendadak menyatakan keinginannya ingin menikahi janda cerai 3 anak dengan anak-anak ABG hingga masih kecil? Apa yang kita pikirkan?

them
Suami dan anak-anak, ange-ange orong-orong hehe..

Ada begitu banyak mitos dalam kehidupan kita. Mitos tersebut bekerja dengan sangat halus sehingga menimbulkan kesan yang benar- benar alami seperti misalnya dalam budaya Jawa ada istilah Angge Angge Orong Orong yang juga terus dimasyarakatkan melalui tembang campur sari Didik Kempot dan dalam dangdut koplo. Berikut ini lirik tembang campur sarinya:

Angge-angge orong-orong.  Ora melok nggawe melok momong (Angge Angge Orong Orong – tidak ikut bikin ikut momong).  Rondo randane ompong (jandanya Ompong)Nduwe anak sak gede kingkong (Punya anak sebesar Kingkong). Terbayangkan bagaimana teropresinya saya ketika mendengar lagu itu sengaja ditujukan kepada saya? Ironisnya lagu itu saya ketahui ketika salah seorang janda, kaya (:setidaknya jauh lebih kaya dari saya karena ia memiliki rumah mewah dan memiliki tempat fitness center) sengaja mengunggah lagu itu untuk saya. Maklum memang begitulah adanya – ada salah satu putri saya yang bertubuh sangat bongsor. Begitulah mitos – mitos yang kemudian memberikan makna konotatif atau makna dalam tataran kedua pada satu kata atau kalimat. Janda bukan lagi sekedar berarti wanita yang bercerai dengan suaminya atau wanita yang suaminya meninggal dunia.

Bahan Bacaan:

Mythology – Roland Barthes, New York: The Noonday Press, 1972.

#SIK041

Stereotipe, “Luka” Yang Sulit Terhapus dan Peran Media

Stereotipe adalah ibarat luka yang sulit terhapus. Penyebab sulit terhapusnya stereotipe karena masing-masing diri kita telah melekat stereotipe yang tanpa disadari ditanamkan oleh orang-orang di sekitar kita. Stereotipe layaknya sebuah “luka” semakin sulit untuk dihapuskan ketika kita mencocokan gambaran tentang stereotipe yang ada dibenak kita dengan apa yang kita lihat di media massa maka akan terjadi peneguhan ketika gambaran stereotipe tersebut cocok. Begitulah media memiliki terhadap penggambaran tentang pengetahuan kita mengenai minoritas. Namun sebaliknya, stereotipe yang tertanam begitu kuat, tanpa kita sadari kerap kali mengiring alam bawah sadar kita tentang berbagai stigma yang tanpa kita sadari.  Ada begitu banyak stereotype-stereotype yang mencengkram pemikiran kita, stereotype tentang anak, wanita dan ras tertentu seperti Yahudi misalnya.

Stereotipe tentang anak sebagai contoh ada yang bermakna positif, bahwa orang yang dekat dengan anak adalah orang yang baik. Stereotype inilah yang kerap menjadi alasan anak dijadikan komoditas dalam kampanye politik. Selain itu stereotipe –kan sebagai kelompok yang lemah dan tidak berdaya.

ahok anak

Sumber Foto

Foto saat peresmian Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Rusunawa Cipinang Besar, Jatinegara tersebut menunjukkan gambaran yang menarik yaitu Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yang melanjutkan kepemimpinan Joko Widodo yang terpilih menjadi presiden pada 2014. Tampak dalam foto Gubernur DKI dikelilingi Ibu-ibu berjilbab dan anak-anak kecil. Foto senada juga ditampilkan Gubernur DKI Jakarta yang akan mengakhiri masa jabatannya hingga Oktober 2017 di akun instagram yang sama dengan mengunggah foto saat memperingati Hari Anak Jakarta Membaca (HANJABA) 2016 dan berbagai kegiatan lainnya.

Di sisi lain, pada saat Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2016-2017 lalu,  kandidat Gubernur Jakarta dengan Nomor urut 1 juga sempat menjadi pemberitaan karena fotonya dengan anak-anak yang mengacungkan dua jari. Bisa jadi anak-anak tersebut tidak paham jika foto mereka tersebut dapat dijadikan “senjata” untuk menjatuhkan dalam politik.

  agus anak-anak

Sumber Foto

Pemanfaatan stereotipe terkait dengan anak tersebut juga dilakukan George Bush saat mengunjungi sekolah dasar Mississippi yang hancur oleh amukan badai Katrina. Kritik terhadap pelibatan anak-anak sebagai “alat peraga” dalam kampanye politik yang dilakukan George Bush yang merupakan Presiden Amerika pada waktu itu dilontarkan Paul Martin Lester dalam kajiannya yang berjudul “Image of Age, Iilnees and The Body.  Pamor Bush pada saat itu sedang turun. Hal tersebut ditunjukkan dari jajak pendapat. Pamor Bush turun akibat keputusannya yang mengobarkan Perang Teluk di Irak. Karenanya tidak pengejutkan jika “Tim Sukses”nya menyarankan foto yang menunjukkan “feel good” untuk menaikkan hasil polingnya melalui foto bersama anak-anak.

Dennis Dunleavy (2005) berpendapat, “Children have been exploited by politicians to peddle agendas for a long time, and the press never ceases to pander to the powerful” (p.224). Yaitu bahwa anak-anak telah dieksploitasi oleh politisi untuk menjajakan agenda sejak lama dan pers tidak pernah berhenti berpihak kepada yang berkuasa. Karena itu, anak-anak dianggap perlu memiliki perlindungan khusus. Anak-anak juga dianggap paling rentan diantara lainnya. Anak-anak dianggap tidak layak dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dilakukannya atau karena anak-anak tidak dapat menolak untuk tidak melakukan perintah dari orang yang lebih berkuasa darinya. Karenanya anak-anak tidak dapat dijadikan agen perubahan atau moral agent. Untuk itu secara etis, anak-anak yang berada dalam lingkungan masyarakat yang sudah tercerahkan tidak seharusnya dijadikan objek, komoditas ataupun digunakan secara sinis oleh orang dewasa.

Lantas bagaimana dengan pengaturan perlindungan anak di Indonesia? Berdasarkan ketentuan dalam Pasal 87 Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak mengancam setiap orang yang menyalahgunakan anak-anak dalam kegiatan politik dan militer lima tahun penjara atau denda maksimal Rp100 juta. Pasal tersebut lengkapnya berbunyi: “Setiap orang secara melawan hukum merekrut atau memperalat anak untuk kepentingan militer sebagaimana dimaksud dalam pasal 63 atau penyalahgunaan dalam kegiatan politik dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp100.000.000 (seratus juta rupiah)”.

Namun yang menjadi permasalahan, ada begitu banyak celah untuk berkelit. Misalnya dalam konteks pemberitaan berbentuk foto jurnalistik, tentunya akan ada begitu banyak dalih untuk pembenaran atas foto jurnalistik yang ditayangkan. Bagaimana jika keikutsertaan anak dalam kegiatan politik atas keinginan sendiri? Atau misalnya karena kegiatan kampanye politiknya misalnya memang berkenaan dengan program yang diperuntukkan bagi anak-anak? Dalam konteks komersial misalnya, anak-anak juga dijadikan objek atau komoditas misalnya iklan popok yang memperlihatkan betapa lucunya balita yang mengunakan popok jika dilihat dari belakang.

Kelompok masyarakat yang kerap diminoritaskan lainnya adalah kelompok kaum difabel Adalah Jack A. Nelson yang mengadvokasi dalam waktu yang lama tentang bagaimana kaum difabel direpresentasikan di media massa. Sepanjang sejarah penyandang kaum difabel direpresentasikan sebagai sosok yang dikhawatirkan, atau dikasihani karena penggambaran media.

Di dunia komersial,  Kathy Brittain Richardson mengkritisi pengunaan citra anak untuk menjual program, produk bahkan untuk memperoleh kesenangan. Salah satu contoh yang paling nyata adalah kisah “balloon boy” yang ditayangkan CNN tahun 2009. Liputan tersebut berkisah tentang anak berusia 6 tahun yang terbang dengan balon udara berwarna perak di langit Colorado (p.228). Bahkan setelah 5 tahun berlalu sejak 15 Oktober 2009, keluarga Falcon – si Ballon Boy masih berupaya untuk mencari ketenaran.

Masih ingat si imut nan tampan Kevin McCallister, yang berkulit putih dan berambut pirang? Tokoh fiktif anak berusia 8 tahun dalam fiktif film Home Alone  itu menjadi ide utama reality show televisi pada tahun 2007  yang ditayangkan jaringan televisi CBS. Hibberd dalam Lester mengungkapkan berdasarkan data dari Komite Nasional Perlindungan Anak menunjukkan bahwa ada 40 anak dari usia 8 hingga 15 tahun yang hidup tanpa orang tua mereka di kota “berhantu” New Mexico selama 40 hari untuk mengatasi kebutuhan hidup mereka sendiri menangkis kebutuhan mereka dan membangun kembali kota yang  telah ditinggalkan  Tayangan tersebut memperlihatkan bagaimana ke-40 anak tersebut dibawa dengan sebuah bis dan ditinggalkan di kota tersebut. Orang tua bahkan tidak diijinkan mendampingi dengan dalih reality show tersebut semacam “summer camp“. Demi sebuah produksi program yang menarik, bahkan salah seorang anak tersebut sampai tersiram minyak panas saat memasak tanpa pengawasan sebagaimana dilaporkan The New York Times (p.229 -230).

Kisah lainnya yang menjadikan anak-anak sebagai komoditas dan objek adalah reality show “Jon & Kate Plus 8” yaitu kisah pasangan dengan delapan buah hati mereka . Program tersebut ditonton hampir 1 juta pemirsa setiap episodenya (Hiltbrand dan Kadaba 2009, E1).  Tayangan tersebut berkisah tentang setiap peristiwa dalam kehidupan anak-anak, dari kunjungan ke toko sampai hari ulang tahun dengan pesta gila-gilaan hingga saat terserang penyakit. Tayangan program tersebut tentunya juga meraup untung dari tayangan iklan. Tayangan itu juga memotret saat kebersamaan pasangan akan berakhir di musim panas 2009,  saat drama perpisahan pernikahan mereka menjadi bagian dari sebuah episode yang disiarkan di bulan Juni, dan ditonton sekitar 1,7 juta pemirsa (Selter 2009b, 1). Sangat jarang orang bisa melihatnya dampak perpisahan pada anak-anak yang dipertontonkan begitu rupa saat prime time. Namun rekaman episode dihentikan atas permintaan Jon yang meminta agar anak-anak tidak difilmkan lagi.

Tak hanya ke-8 anak itu, kisah Miley and Hannah juga menunjukkan anak usia belasan tahun juga menjadi komoditas yang sangat menguntungkan. Miley and Hannah  pun diproduksi hampir setiap kategori barang dagangan: seprei dan selimut; sikat gigi, piring sabun; Cangkir, mangkuk, dan wadah sandwich, t-shirt, celana jeans, dan celana dalam, perhiasan dan dompet, parfum, kamera, sepeda, helm dan pancing, boneka, poster, dan permainan, DVD dan CD.

Begitulah anak di-stereotipe-kan sebagai sosok yang lemah dan tidak berdaya. Padahal dalam kehidupan nyata, anak-anak bukanlah kelompok yang bukan tanpa kemampuan untuk bernegosiasi. Bahkan tidak jarang anak-anak jauh lebih berani menyatakan apa yang dianggapnya benar dan jauh lebih berani menegur orang lain ketika ia menganggap orang tersebut salah. Hal itu yang saya alami saat berada di pesawat bersama tiga putri saya. Kebetulan karena jam padat penerbangan, pesawat yang kami tumpangi berada di antrian cukup lama. Salah seorang penumpang marah-marah dan sempat memaki pramugari yang kebetulan berada di dekatnya. Spontan putri saya langsung menegur, “Bapak ngapain sih bentak-bentak mbak pramugarinya? Kan bukan salah si mbak. Kan di bandara sudah ada aturannya dan yang mengatur kapan kita terbang. Bapak marah-marah juga percuma,” ujarnya dengan nada agak sinis. Sebagai Ibu ada adukan emosi, antara malu, dan lega karena si Bapak itu akhirnya diam. Malu karena saya pun tak memiliki keberanian cukup untuk menegur si Bapak. Contoh lainnya adalah ketika anak-anak berani menegur pengendara motor yang mengunakan trotoar sebagai jalan alternatif.

Daffa

Daffa menghadang pengendara motor dengan sepedanya. Sumber Foto

Daffa adalah salah satu contoh dari sekian banyak anak-anak yang berani . Kejadian lain yang saya alami kemarin ketika saya berjalan di trotoar Stadion Gelora Bung Karno mendadak ada motor melintas tepat di samping saya. Spontan dua anak langsung menegurnya, “Oom, dipikir dong ini trotoar bukan untuk motor tapi untuk orang jalan kaki!” seru bocah laki-laki yang masih kecil itu. Saya pun jadi malu sendiri karena saya tidak seberani bocah-laki-laki itu.

 Why Age Stereotypes Matter

Mengutip salah satu sub judul di Pepsi ’ s Generation Gap yang ditulis Bonnie L. Drewniany, telaah yang menarik berikutnya adalah terkait dengan stereotipe  yang berkaitan dengan usia.  Kerap kita sering berseloroh, “usia boleh tua, yang penting jiwa tetap muda.” Lantas mengapa kita kerap lebih nyaman “berjiwa muda” daripada “berjiwa tua” misalnya? Apa istimewanya dengan berjiwa muda ini? Bisa jadi karena stereotipe  yang dilekatkan pada usia muda. Salah satunya seperti iklan Pepsi dengan tagline Pepsi Generation“.  Ironisnya pengambaran hebat atas usia muda yang dilakukan Pepsi tak lain adalah digunakan untuk menyasar baby boomer yang jumlahnya diperkirakan mencapai 76 juta orang di Amerika Serikat.

Salah satu strategi periklanan Pepsi adalah ditayangkan saat acara Super Bowl sejak tahun 1980. Menurut Nielsen dalam Drewniany (2011: 242) tayangan Super Bowl meraih juam pemirsa rata-rata 106,5 juta dan membuatnya menjadi tayangan program televisi yang paling tinggi ratingnya sepanjang masa. Meski faktanya, sebuah studi baru menemukan bahwa 51% dari penonton Super Bowl lebih karena ingin menonton iklan. Bahkan pembukaan Super Bowl dilakukan dengan fly over Thunder Birds – skuadron aerobatik Angkatan Udara AS (United State Air Force/USAF) saat lagu kebangsaan Amerika diperdengarkan di Super Bowl XLIII, 1 Februari 2009 di Tampa, Florida. Pepsi mengambarkan citranya sebagai young and fun – muda dan bersenang-senang/menyenangkan.“Be Young, Have Fun, Drink Pepsi”

Mengapa membahas sterotipe berdasarkan usia itu penting? Moriarty, Mitchell, dan Wells dalam Drewniany menjelaskan masyarakat melihat secara visual dalam iklan untuk mengambarkan tentang bagaimana berbagai generasi berperilaku. Jika kita percaya bahwa periklanan memiliki kemampuan untuk membentuk nilai kita dan pandangan kita tentang dunia, maka penting bagi pengiklan untuk menyadari bagaimana mereka menggambarkan kelompok yang berbeda. Sebaliknya, jika kita percaya bahwa periklanan mencerminkan masyarakat, pengiklan memiliki tanggung jawab untuk memastikan apakah yang dilukiskan akurat dan representatif (2011: 243). Karena itu menurut Mc Kee (2003, 159) menjadi penting untuk media mengambarkan citra anak dari sudut anak tersebut memandang (Drewniany, 2011: 243) bukan dari sudut pandang dominan.

Tramp Stamps and Tribal Bands: Stereotypes of the Body Modified tulisan Chema Salinas yang mengupas tentang stereotipe tato, budaya gotik yang misterius,  Media Myths and Breast Cancer pemikiran Deni Elliott with Amanda Decker, Invisible No Longer: Images of Disability in the Media pemikiran dari Jack A. Nelson, Images Shaping and Constraining Religions and Ethnicities kajian dari Susan Dente Ross, Television News, Jewish Youth, and Self-Image pemikiran dari  Dina Ibrahim and Michelle A. Wolf, Mass Media ’ s Mexican Americans kajian dari  Ramón Chávez, Drawing Dehumanization: Exterminating the Enemy in Editorial Cartoons tulisan dari  Erin Steuter and Deborah Wills kesemuanya pada akhirnya mengambarkan bagaimana implikasi atau dampak dari stereotipe berupa pencitraan yang ditanamkan pada kita oleh media.

Stereotipe tentang tato misalnya yang kerap dilekatkan pada kejahatan dan sikap agresif padahal bisa jadi tato adalah bentuk dari seni. Atau dalam konteks kanker payudara dengan logi pita pink mengisyaratkan jika kita peduli pada pendeita kanker payudara kita dapat tunjukkan dengan membeli produk dengan logo “pink”. Stereotipe wanita yang dilekatkan pada  bagian dari tubuh yaitu buah dada misalnya.

Caplin

“I Am One Woman ” (self-portrait as Chaplin) by the artist Matuschka.
(Courtesy of Matuschka © 1994, http://www.matuschka.net.)

Stereotype wanita yang dilekatkan pada bagian-bagian tubuh tertentu inilah yang membuat putri pertama saya suatu hari mengeluhkan panggilan teman-teman kelasnya. “Aku dipanggil wanita jadi-jadian Ma.. karena aku terepes,” katanya. Atau dia bercerita teman-temannya bilang,”Dia mah bukan cewek..lihat aja tuh rata,” cerita si bocah. Ternyata begitu dahsyatnya dampak Stereotype wanita yang dilekatkan pada bagian-bagian tubuh tertentu itu bukan?

Ada yang pernah nonton film “You Dont Mess Up With Zohan“? Film ini mengambarkan dengan sangat manis bagaimana implikasi stereotipe tentang Palestina dan Israel. Sayangnya untuk menonton film yang memiliki nilai edukasi penonton dapat juga terjebak pada pengambaran stereotipe negatif terhadap keduanya misalnya ketika penonton melihat adegan keluarga Zohan yang Israel menjadikan kucing sebagai  bola untuk ditendang-tendang dan dijadikan permainan laksana bola. Namun film ini mencubit saya untuk menelusur stereotype yahudi yang ada di kepala saya. Penjajah Palestina? Bisa jadi. Untungnya saya membaca kisah tentang istri Rasulullah yang bernama Shafiyah binti Huyay yang merupakan keturunan Yahudi. Atas dasar pemikiran menghilangkan stereotype Yahudi itulah saya sengaja memilih nama Shafiya sebagai nama puteri kedua saya. Kisah lainnya adalah pernikahan Presiden Yasser Arafat dengan Suha Al-Tawil, perempuan yahudi dari Ramallah yang beragama katolik. Yasser Arafat adalah pemimpin pergerakan pembebasan Palestina sempat dikira tak akan menikah. Jadi sudahkah kita memeriksa kembali stereotype-stereotype yang bermain dibenak kita?

Referensi:

Susan Dente Ross dan Paul Martin Lester , Images that injure: pictorial stereotypes in the media. (eds). 2011.Westport: Praeger

Stacy Nick, The Coloradoan, 5 Year Later: ‘Ballon Boy’, Family Still Search For Fame, https://www.usatoday.com/story/news/nation/2014/10/15/balloon-boy-5-years-later/17327017/

Wida Kriswanti, Ingin Punya Anak Seperti Daffa Jagoan Cilik Penghadang Motor yang Naik ke Trotoar, http://aura.tabloidbintang.com/articles/psikologi/37831-ingin-punya-anak-seperti-daffa-jagoan-cilik-penghadang-motor-yang-naik-ke-trotoar diakses 9 Mei 2017.

Black Males and the Self

Melalui  Black Males and The Self kita dapat belajar memahami bagaimana representasi ras kulit hitam khususnya pria di media, memahami bagaimana hubungan identifikasi ras dengan minoritas serta memahami diskursus politis dalam presentasi ras kulit hitam. Ada dua pemikiran yang kita telaah yaitu pemikiran Claude Wilkinson melalui naskah drama yang berjudul “ A Soldier’s play ” karya Charles Fuller serta pemikiran Aaron N. Oforlea dengan cara mengeksplorasi karakter Paul D dalam novel roman Toni Morisson yang berjudul “Beloved.”

Claude Wilkinson menunjukkan bahwa “black enough”.  Pertanyaan tentang kesetiaan etnik (ethnic allegiance) dimana ada begitu banyak suara antara kulit hitam dan kulit putih, saling berusaha menonjolkan diri, dan sering kali berusaha mengkontrol (106), harus terdegradasi ke tempat kedua untuk kebaikan bagi identitas individu.

Hal tersebut tergambar dalam adegan-adegan dan melalui tokoh-tokoh dalam drama tersebut. Drama tersebut berkisah tentang kehidupan di markas militer Louisiana tahun 1944. Saat itu militer Amerika dipisahkan secara rasial. Pada babak awal, drama dibuka dengan adegan saat Sersan Vernon Waters yang berkulit hitam ditembak mati seorang penembak yang tidak terlihat.  Walters pun mati dengan teriakan terakhir sebelum kematian, “They still hate you!”.

Menariknya, drama ini mengambarkan bagaimana kebencian kulit hitam terhadap Waters. Karena setelah diselidiki, ternyata pembunuh Waters adalah berkulit hitam. Pembunuhan disebabkan karena dia membenci Waters karena memperlakukan orang kulit hitam dengan cara yang sangat meremehkan dan menghina.

Waters sangat cerdas dan sangat ambisius, dan membenci orang kulit hitam yang sesuai dengan stereotip rasis kuno. Waters menganggap orang kulit hitam pemalas. Waters menganiaya tentara kulit hitam seperti CJ Memphis. Sesaat sebelum dia dibunuh, Waters menyadari betapa sia-sia dan bodohnya usaha seumur hidupnya untuk berperilaku seperti orang kulit putih. Kata-katanya yang sekarat, “Mereka masih membencimu,” tercermin pengertiannya yang terlambat bahwa kebencian putih dan penghinaan terhadap orang kulit hitam seperti dirinya tidak ada hubungannya dengan perilaku hitam stereotip, dan orang kulit putih mungkin akan selalu membencinya, tidak peduli seberapa keras dia mencoba meniru cara “orang kulit putih”.

Sumber Foto Disini

Aaron N Oforlea dengan cara mengeksplorasi karakter Paul D dalam “Beloved” menunjukkan bagaimana Paul D – tidak hanya mewakili proses dimana pria kulit hitam menolak diskursus rasial tapi juga pentingnya wanita kulit hitam terhadap konstruksi subjektivitas pria hitam. Oforlea berpendapat bahwa untuk dapat beralih dari objek, yang kemudian berlanjut muk menjadi subyek, aktor Paul D mengambarkan bagaimana penerimaan terhadap Afrika Amerika yang  digambarkan secara lengkap termasuk didalamnya bagaimana “keheningan” dan digambarkan melalui berbagai ekspresi secara kreatif.

Novel Beloved  karya Tony Morrison  ini memenangkan Pulitzer sedang Tom Morisson sendiri akhirnya meraih Nobel karena karyanya ini. Beloved memenangkan Pulitzer karena mendokumentasikan kekejian dan horor perbudakan, namun juga mencuatkan makna hubungan kekeluargaan dan daya hidup. Keputusan dan tindakan-tindakan kita semuanya mengandung konsekuensi termasuk didalamnya tentang identitas kita.

Karakter Paul D yang dieksplorasi oleh  Aaron n. Oforlea sendiri adalah seorang pengembara kulit hitam. Pengembaraan Paul D dikisahkan pada musim panas yang tenang tahun 1865 sampailah di Ohio di sebuah rumah di jalan Bluestone Road 124. Di rumah tersebut tinggal Sethe, seorang perempuan yang dikenal Paul D di masa lalu saat keduanya menjadi budak di perkebunan Kentucky bernama Sweet Home.  Meskipun sesungguhnya Sweet Home itu sendiri tidak semanis namanya. Sethe tinggal bersama anak perempuannya, Denver. Denver adalah seorang gadis yang tertutup, menemaninya. Sedang dua anak laki-lakinya telah lama minggat, ketakutan oleh hantu saudari mereka yang gentayangan di rumah itu. Paul D pun segera berhadapan dengan roh ini, dan setelah sebuah perlawanan singkat, roh itu tampaknya menghilang. Namun Denver meragukannya, dan merasa arwah tersebut sedang merancang sesuatu.

Tidak salah. Beberapa hari kemudian ia muncul dalam wujud seorang gadis nyaris bisu berpakaian hitam yang lunglai tersengat panas di depan rumah mereka. Ketika ditanyai namanya, dengan suara serak kesakitan, dan seolah bergeletar dari tempat yang jauh, ia mengeja huruf demi huruf: B-E-L-O-V-E-D. Beloved adalah nama anak Sethe yang tewas di tangan sang ibu ketika ia berusaha “melindungi” anak-anaknya, agar tidak diangkut jadi budak.

Singkat cerita, terjadi cinta segitiga antara Paul D, Sethe dan Beloved. Akhirnya, Paul D pergi ketika Sethe menyakini Beloved adalah anaknya dan berusaha menebus kesalahannya. Denver akhirnya minta bantuan komunitas penduduk lokal untuk mengusir roh jahat (Beloved). Muncul bantuan dari pria kulit putih dimana Denver akan bekerja padanya. Akhir kisah, Beloved akhirnya menghilang bersamaan dengan kembalinya Paul D. yang menyatakan cintanya kepada Sethe.

Namun yang menarik melalui eksplorasi tokoh Paul D, Aaron N Oforlea mengambarkan bagaimana diskursus politis dalam presentasi ras pada masa perbudakan hingga pada masa setelah masa perbudakan itu usai. Bagaimana perbudakan menyebabkan fragmentasi pada diri dan hilangnya identitas diri. Fragmentasi diri yang terjadi karena perbudakan bagaimana mereka karena perbudakan di masa lalu berusaha menghapus memori menyedihkan bahkan memungkiri keberadaan mereka di masa lalu pernah menjadi budak. Setidaknya itulah gambaran betapa pedihnya penderitaan negro akibat perbudakan,

Dari kedua karya sastra tersebut kita dapat memahami bagaimana identifikasi ras negro dan hubungannya mengapa ras negro menjadi minoritas. Toni Morisson melalui Beloved membuka sejarah perbudakan negro dan bagaimana mereka diopresi oleh kelompok dominan.  Toni Morrison melalui karya-karyanya menunjukkan identitasnya sebagai negro dan berjuang melalui karyanya untuk mengungkapkan betapa kejinya opresi mayoritas kepada negro sebagai minoritas. Karya Toni Morrison  yang dengan lantang menyuarakan kekejaman perbudakan itu membuatnya meraih Pulitzer pada tahun 1988 dan menjadi wanita kulit hitam pertama Amerika yang meraih nobel di bidang sastra.

Tapi ketika suatu saat saya sedang berbelanja di salah satu gerai, mendadak masuk pria kulit hitam, memakai gamis panjang, disitulah apa yang tersembunyi di pikiran saya diuji.  Beberapa pembeli sedikit mengeser tempat berdirinya. Saya pun akhirnya tanpa sadar mengikuti hanya saya berusaha sedikit berkomunikasi, “Please, ” kata saya singkat mempersilahkan sembari menunjukkan keranjang belanjaan saya yang berisi macam-macam snack anak-anak.  “Thank you,” kata pria berkulit hitam tersebut sembari meletakkan air mineral ukuran sedang yang ditentengnya.  Stereotype tentang pria kulit hitam ternyata begitu lekat bukan?

Bahan Bacaan:

  1. Black Males and the Self dari Constructing the Literary Self : Race and Gender in Twentieth-Century Literature, 2013. http://www.cambridgescholars.com/download/sample/58324 diakses 1 Mei 2017.
  1. Charles Fuller, A Soldier’s Play, https://marshajacksonjake.files.wordpress.com/2017/04/a-soldiers-play-by-charles-fuller.pdf diakses 1 Mei
  2. Toni Morisson, Beloved, http://publish.uwo.ca/~hamendt/WD%20final%20Project/litertaure/Beloved.pdf diakses 1 Mei 2017.

 

 

Negosiasi Identitas Transgender Di Ranah Online

Transgender di sejumlah negara, dipahami sebagai satu hal yang “wajar”. Hal tersebut dapat diketahui dari telah diakuinya transgender (bukan laki-laki maupun perempuan)atau gender ke-3 sebagai gender.  Setidaknya ada enam  negara yang mengakui gender ketiga atau transgender  yaitu India, Nepal, Pakistan, Australia, Thailand, dan Bangladesh.  Karenanya menjadi menarik ketika kita melihat bagaimana kaum transgender menyatakan identitas mereka di ranah nyata dan ranah online. Kajian bagaimana kaum transgender menegosiasikan identitas gender mereka yang kompleks dan berupaya membangun kehidupan mereka dengan melalui ranah online inilah yang dilakukan Avi Marciano dalam jurnalnya yang berjudul “Living The Virtureal:  negosiating Transgender Identity in Cyberspace”.

24

Transgender adalah orang yang memiliki identitas gender tapi tidak sejajar dengan kondisi biologis dan seks mereka. Setidaknya itulah yang didefinisikan dalam buku Transgender Lives. Complex Stories, Complex Voices, Cronn-Mills (2014:15-16). Pemahaman lain tentang transgender dapat diakses di http://img.tapuz.co.il/forums/21894817.htm . Sedang identitas diartikan  Chris Barker (2013: 174) dalam bukunya Cultural Studies, identitas merupakan sepenuhnya konstruksi sosial yang dibentuk oleh manusia sendiri. Seseorang dilahirkan dan mencari identitas berdasarkan orang-orang yang lahir sebelum kita dan juga lingkungan dimana ia dibesarkan. Sehingga biasanya orang yang tidak berperilaku sesuai dengan mayoritas orang sekitar dianggap tidak normal atau tidak sesuai dengan lingkungan dimana dia berada.

Studi yang dilakukan Marciano sendiri dilakukan dalam dua tahapan yaitu: pertama, Marciano menganalisa teks yang berkaitan dengan transgender dan teks yang terkait dengan transgender di dua laman yaitu newsgroupTransgender & Friends” di Tapuz dan GoTrans. newsgroupTransgender & Friends” di Tapuz  dilakukan dengan cara mengklasifikasikan dalam 11 tema kategori.  Tapuz  merupakan portal web di Israel yang berisi forum internet dan berbagai media dengan format internet seperti Blog TV. Transgender & Friends didirikan tahun 2002. GoTrans adalah website yang menjadi tempat berkumpulnya komunitas transgender terbesar di Israel yang didirikan pada tahun 2008, yang berisi segala informasi terkait ilmu pengetahuan, kedokteran dan masyarakat transgender.  Kategori yang digunakan untuk menganalisa GoTrans terdiri dari 8 kategori. Sampel yang diteliti dari GoTrans terdiri dari 100 sampel. Sedang sampel yang diteliti pada . Transgender & Friends terdiri dari 900 posringan Teks yang dianalisa adalah teks yang ada pada Oktober 2011. Langkah kedua dalam penelitian Marciano adalah analisis diskursus.

Hasil dari penelitian Marciano adalah, ada tiga jenis pola pemanfaatan komunitas onlinne yang dilakukan kaum transgender yaitu sebagai ruang prelementary (pendahuluan sebelum akhirnya di dunia nyata),  complementary (pelengkap) dan ruang alternatif. Meskipun sebagai ruang alternatif, tidak berarti ruang alternatif tersebut adalah ruang maya melainkan tidak jauh berbeda dengan dunia nyata sehingga ketika keduanya berinteraksi maka akan melebur.  Maksudnya disini adalah dalam ruang yang paralel, pengguna melepas identitas mereka sebelumnya dan memilih identitas yang merefleksikan/mencerminkan karaktersistik individu mereka. Jadi identitas mereka relatif tetap dan konstan, ketika interaksi sosial terjadi dan dunia alternatif muncul. Misalnya seperti contoh akun Lady Boy Sparkle misalnya.

lady boy

Kondisi dijadikannya dunia maya atau ranah online dapat dipahami karena meskipun pemerintah Israel menerapkan kebijakan transgender boleh memasuki dunia militer dan mayoritas masyarakat Israel mulai banyak yang toleran, akan tetapi masih banyak komunitas Yahudi Ortodoks sangat membenci kaum transgender (termasuk didalamnya lesbian, gay, biseksual).  Bahkan tahun 2015 seorang lesbian ditusuk hingga meninggal oleh Yahudi radikal di tengah parade Gay di Yerusalem.

Sedang bagi pengguna yang memanfaatkan ranah online sebagai prelementary, mereka berharap memiliki kesempatan di dunia virtual sebelum mereka mentransfer ke kehidupan nyata. Sementara bagi mereka yang menggunakan ranah online sebagai pelengkap atau complementary, mereka cenderung merincikan identitas mereka secara lengkap misalnya sekolah, tempat bekerja dan yang lainnya. Mereka yang menggunakan ranah online sebagai pelengkap biasanya tidak melakukan pembedaan secara nyata antara dunia nyata dengan ranah online.

Rujukan:

Marciano, Avi.  Living in the VirtuReal: Negotiating Transgender Identity in Cyber Space, 2014

Cornn Mills, Kristin. Transgender Lives. Complex Stories, Complex Voices, Twenty-First Century Books (CT) , 2014.

Barker, Chris.  Cultural Studies: Theory and Practice, Sandrene Malcolm,  2013.