Negosiasi Identitas Transgender Di Ranah Online

Transgender di sejumlah negara, dipahami sebagai satu hal yang “wajar”. Hal tersebut dapat diketahui dari telah diakuinya transgender (bukan laki-laki maupun perempuan)atau gender ke-3 sebagai gender.  Setidaknya ada enam  negara yang mengakui gender ketiga atau transgender  yaitu India, Nepal, Pakistan, Australia, Thailand, dan Bangladesh.  Karenanya menjadi menarik ketika kita melihat bagaimana kaum transgender menyatakan identitas mereka di ranah nyata dan ranah online. Kajian bagaimana kaum transgender menegosiasikan identitas gender mereka yang kompleks dan berupaya membangun kehidupan mereka dengan melalui ranah online inilah yang dilakukan Avi Marciano dalam jurnalnya yang berjudul “Living The Virtureal:  negosiating Transgender Identity in Cyberspace”.

24

Transgender adalah orang yang memiliki identitas gender tapi tidak sejajar dengan kondisi biologis dan seks mereka. Setidaknya itulah yang didefinisikan dalam buku Transgender Lives. Complex Stories, Complex Voices, Cronn-Mills (2014:15-16). Pemahaman lain tentang transgender dapat diakses di http://img.tapuz.co.il/forums/21894817.htm . Sedang identitas diartikan  Chris Barker (2013: 174) dalam bukunya Cultural Studies, identitas merupakan sepenuhnya konstruksi sosial yang dibentuk oleh manusia sendiri. Seseorang dilahirkan dan mencari identitas berdasarkan orang-orang yang lahir sebelum kita dan juga lingkungan dimana ia dibesarkan. Sehingga biasanya orang yang tidak berperilaku sesuai dengan mayoritas orang sekitar dianggap tidak normal atau tidak sesuai dengan lingkungan dimana dia berada.

Studi yang dilakukan Marciano sendiri dilakukan dalam dua tahapan yaitu: pertama, Marciano menganalisa teks yang berkaitan dengan transgender dan teks yang terkait dengan transgender di dua laman yaitu newsgroupTransgender & Friends” di Tapuz dan GoTrans. newsgroupTransgender & Friends” di Tapuz  dilakukan dengan cara mengklasifikasikan dalam 11 tema kategori.  Tapuz  merupakan portal web di Israel yang berisi forum internet dan berbagai media dengan format internet seperti Blog TV. Transgender & Friends didirikan tahun 2002. GoTrans adalah website yang menjadi tempat berkumpulnya komunitas transgender terbesar di Israel yang didirikan pada tahun 2008, yang berisi segala informasi terkait ilmu pengetahuan, kedokteran dan masyarakat transgender.  Kategori yang digunakan untuk menganalisa GoTrans terdiri dari 8 kategori. Sampel yang diteliti dari GoTrans terdiri dari 100 sampel. Sedang sampel yang diteliti pada . Transgender & Friends terdiri dari 900 posringan Teks yang dianalisa adalah teks yang ada pada Oktober 2011. Langkah kedua dalam penelitian Marciano adalah analisis diskursus.

Hasil dari penelitian Marciano adalah, ada tiga jenis pola pemanfaatan komunitas onlinne yang dilakukan kaum transgender yaitu sebagai ruang prelementary (pendahuluan sebelum akhirnya di dunia nyata),  complementary (pelengkap) dan ruang alternatif. Meskipun sebagai ruang alternatif, tidak berarti ruang alternatif tersebut adalah ruang maya melainkan tidak jauh berbeda dengan dunia nyata sehingga ketika keduanya berinteraksi maka akan melebur.  Maksudnya disini adalah dalam ruang yang paralel, pengguna melepas identitas mereka sebelumnya dan memilih identitas yang merefleksikan/mencerminkan karaktersistik individu mereka. Jadi identitas mereka relatif tetap dan konstan, ketika interaksi sosial terjadi dan dunia alternatif muncul. Misalnya seperti contoh akun Lady Boy Sparkle misalnya.

lady boy

Kondisi dijadikannya dunia maya atau ranah online dapat dipahami karena meskipun pemerintah Israel menerapkan kebijakan transgender boleh memasuki dunia militer dan mayoritas masyarakat Israel mulai banyak yang toleran, akan tetapi masih banyak komunitas Yahudi Ortodoks sangat membenci kaum transgender (termasuk didalamnya lesbian, gay, biseksual).  Bahkan tahun 2015 seorang lesbian ditusuk hingga meninggal oleh Yahudi radikal di tengah parade Gay di Yerusalem.

Sedang bagi pengguna yang memanfaatkan ranah online sebagai prelementary, mereka berharap memiliki kesempatan di dunia virtual sebelum mereka mentransfer ke kehidupan nyata. Sementara bagi mereka yang menggunakan ranah online sebagai pelengkap atau complementary, mereka cenderung merincikan identitas mereka secara lengkap misalnya sekolah, tempat bekerja dan yang lainnya. Mereka yang menggunakan ranah online sebagai pelengkap biasanya tidak melakukan pembedaan secara nyata antara dunia nyata dengan ranah online.

Rujukan:

Marciano, Avi.  Living in the VirtuReal: Negotiating Transgender Identity in Cyber Space, 2014

Cornn Mills, Kristin. Transgender Lives. Complex Stories, Complex Voices, Twenty-First Century Books (CT) , 2014.

Barker, Chris.  Cultural Studies: Theory and Practice, Sandrene Malcolm,  2013.

Advertisements

8 thoughts on “Negosiasi Identitas Transgender Di Ranah Online

  1. berarti bolehkah aku bilang kalau transgender lebih terbuka akan identitasnya di dunia online ketimbang di dunia offline?
    tapi mbak Handri, aku masih kurang paham dengan pernyataan ini “Meskipun sebagai ruang alternatif, tidak berarti ruang alternatif tersebut adalah ruang maya melainkan tidak jauh berbeda dengan dunia nyata sehingga ketika keduanya berinteraksi maka akan melebur.”
    Kalau begitu, bagaimana penerimaan masyarakat mengenai transgender di dunia online dan offline? ada beda kah?

    Liked by 1 person

    1. Maksudnya disini adalah dalam ruang yang paralel, pengguna melepas identitas mereka sebelumnya dan memilih identitas yang merefleksikan/mencerminkan karaktersistik individu mereka. Jadi identitas mereka relatif tetap dan konstan, ketika interaksi sosial terjadi dan dunia alternatif muncul.

      Like

  2. Sayangnya di Indonesia pemerintah masih belum bisa memberikan kesetaraan hak kepada kelompok transgender ini dalam hal kebebasan dalam dunia online, yang terbukti dengan berbagai aksi pemblokiran situs-situs dan aplikasi-aplikasi yang berbau LGBT, bahkan seperti yang kita tahu saat ini konten-konten dalam televisi misalnya dilarang menampilkan konten-konten yang berbau LBGT. Kesetaraan hak disini bukan berarti pemerintah Indonesia harus melegalkan pernikahan sesama jenis seperti yang sudah diberlakukan di berbagai negara barat, tetapi cukup dengan memanusiakan mereka dan tidak perlu berlebihan melihat mereka sebagai ancaman bagi seluruh umat.

    sumber:
    http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/09/160915_indonesia_pemblokiran_aplikasi

    Like

  3. Kalau dikaitkan dengan bacaan Race in Cyberspace, berarti ketika seorang LGBT log in ke dunia maya sebagai complementary, maka orang tersebut tetap membawa nilai-nilai dari dunia nyata, termasuk identitasnya sebagai LGBT. Berarti sekarang hanya masalah diterima atau tidaknya mereka oleh masyarakat di dunia maya yah Mba? Soalnya di dunia maya itu sendiri terkadang masih banyak candaan maupun cemoohan seperti Maho (manusia homo), yang menunjukkan masyarakat kita sendiri masih membuat batas-batas antara yang dianggap normal (heteroseksual) dan yang dianggap tidak normal (LGBT)

    Like

  4. Sebenarnya berarti norma yang ada di dunia nyata turut dibawa pula di dunia maya, sehingga sesungguhnya tidak begitu banyak perbedaannya.. poinnya adalah justru di dunia maya ini mereka bisa menemukan komunitas sejenis untuk saling berbagi tanpa khawatir identitasnya ketahuan dan memengaruhi kehidupan nyatanya, begitu ya mba?

    Like

  5. Fenomena transgender dengan segala permasalahannya merupakan kajian yang tergolong masih baru dalam ranah minoritas. Fenomena transgender hadir di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat, ini merupakan sebuah fakta. Namun sayangnya, masyarakat Indonesia relatif menolak dari keberadaan transgender tersebut. Terlepas dari pembahasan konteks agama, seharusnya kaum transgender ini diakui hak, posisi dan keberadaannya sebagai sesama umat manusia dan sebagai sesama warga negara. Menyikapi fenomena transgender ini, bagaimana tanggapannya Mbak Handrini terkait keberadaan identitas mereka di dunia nyata dan di dunia online, khususnya dalam konteks transgender di Indonesia?
    #041, #SIK041

    Like

  6. media sosial menjadi alternatif bagi mereka mas.. mereka menegosiasikan posisi mereka sebagai transgender secara terbuka melalui media sosial. Cek di FB.. salah satunya https://www.facebook.com/velov.yayu?ref=br_rs akun atas nama Ayu Darmanto dan masih banyak lagi lainnya. Kondisi itu menunjukkan masyarakat Indonesia sendiri sebenarnya masih sangat toleran terhadap keberadaan transgender termasuk saya hehe…

    Like

    1. yang kutangkap, secara personal barangkali banyak orang yang tidak masalah dengan keberadaan mereka. Sebagai sesama manusia tetap berinteraksi seperti biasa saja. Hanya saja penerimaan secara sosial yang barangkali masih tidak utuh, karena masih terbentur dengan norma-norma yang lebih dulu dianut oleh masyarakat secara umum. Terlepas dari perbedaan pandangan dalam melihat keberadaannya, aku tetap percaya bahwa menghormati siapapun sebagai manusia, itu ga boleh terlupakan oleh kita..nilai-nilai itu yang agaknya harus dijaga, sehingga beda yang ada tidak justru membuat keruncingan yang berujung tindakan tindakan kriminal.

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s