Black Males and the Self

Melalui  Black Males and The Self kita dapat belajar memahami bagaimana representasi ras kulit hitam khususnya pria di media, memahami bagaimana hubungan identifikasi ras dengan minoritas serta memahami diskursus politis dalam presentasi ras kulit hitam. Ada dua pemikiran yang kita telaah yaitu pemikiran Claude Wilkinson melalui naskah drama yang berjudul “ A Soldier’s play ” karya Charles Fuller serta pemikiran Aaron N. Oforlea dengan cara mengeksplorasi karakter Paul D dalam novel roman Toni Morisson yang berjudul “Beloved.”

Claude Wilkinson menunjukkan bahwa “black enough”.  Pertanyaan tentang kesetiaan etnik (ethnic allegiance) dimana ada begitu banyak suara antara kulit hitam dan kulit putih, saling berusaha menonjolkan diri, dan sering kali berusaha mengkontrol (106), harus terdegradasi ke tempat kedua untuk kebaikan bagi identitas individu.

Hal tersebut tergambar dalam adegan-adegan dan melalui tokoh-tokoh dalam drama tersebut. Drama tersebut berkisah tentang kehidupan di markas militer Louisiana tahun 1944. Saat itu militer Amerika dipisahkan secara rasial. Pada babak awal, drama dibuka dengan adegan saat Sersan Vernon Waters yang berkulit hitam ditembak mati seorang penembak yang tidak terlihat.  Walters pun mati dengan teriakan terakhir sebelum kematian, “They still hate you!”.

Menariknya, drama ini mengambarkan bagaimana kebencian kulit hitam terhadap Waters. Karena setelah diselidiki, ternyata pembunuh Waters adalah berkulit hitam. Pembunuhan disebabkan karena dia membenci Waters karena memperlakukan orang kulit hitam dengan cara yang sangat meremehkan dan menghina.

Waters sangat cerdas dan sangat ambisius, dan membenci orang kulit hitam yang sesuai dengan stereotip rasis kuno. Waters menganggap orang kulit hitam pemalas. Waters menganiaya tentara kulit hitam seperti CJ Memphis. Sesaat sebelum dia dibunuh, Waters menyadari betapa sia-sia dan bodohnya usaha seumur hidupnya untuk berperilaku seperti orang kulit putih. Kata-katanya yang sekarat, “Mereka masih membencimu,” tercermin pengertiannya yang terlambat bahwa kebencian putih dan penghinaan terhadap orang kulit hitam seperti dirinya tidak ada hubungannya dengan perilaku hitam stereotip, dan orang kulit putih mungkin akan selalu membencinya, tidak peduli seberapa keras dia mencoba meniru cara “orang kulit putih”.

Sumber Foto Disini

Aaron N Oforlea dengan cara mengeksplorasi karakter Paul D dalam “Beloved” menunjukkan bagaimana Paul D – tidak hanya mewakili proses dimana pria kulit hitam menolak diskursus rasial tapi juga pentingnya wanita kulit hitam terhadap konstruksi subjektivitas pria hitam. Oforlea berpendapat bahwa untuk dapat beralih dari objek, yang kemudian berlanjut muk menjadi subyek, aktor Paul D mengambarkan bagaimana penerimaan terhadap Afrika Amerika yang  digambarkan secara lengkap termasuk didalamnya bagaimana “keheningan” dan digambarkan melalui berbagai ekspresi secara kreatif.

Novel Beloved  karya Tony Morrison  ini memenangkan Pulitzer sedang Tom Morisson sendiri akhirnya meraih Nobel karena karyanya ini. Beloved memenangkan Pulitzer karena mendokumentasikan kekejian dan horor perbudakan, namun juga mencuatkan makna hubungan kekeluargaan dan daya hidup. Keputusan dan tindakan-tindakan kita semuanya mengandung konsekuensi termasuk didalamnya tentang identitas kita.

Karakter Paul D yang dieksplorasi oleh  Aaron n. Oforlea sendiri adalah seorang pengembara kulit hitam. Pengembaraan Paul D dikisahkan pada musim panas yang tenang tahun 1865 sampailah di Ohio di sebuah rumah di jalan Bluestone Road 124. Di rumah tersebut tinggal Sethe, seorang perempuan yang dikenal Paul D di masa lalu saat keduanya menjadi budak di perkebunan Kentucky bernama Sweet Home.  Meskipun sesungguhnya Sweet Home itu sendiri tidak semanis namanya. Sethe tinggal bersama anak perempuannya, Denver. Denver adalah seorang gadis yang tertutup, menemaninya. Sedang dua anak laki-lakinya telah lama minggat, ketakutan oleh hantu saudari mereka yang gentayangan di rumah itu. Paul D pun segera berhadapan dengan roh ini, dan setelah sebuah perlawanan singkat, roh itu tampaknya menghilang. Namun Denver meragukannya, dan merasa arwah tersebut sedang merancang sesuatu.

Tidak salah. Beberapa hari kemudian ia muncul dalam wujud seorang gadis nyaris bisu berpakaian hitam yang lunglai tersengat panas di depan rumah mereka. Ketika ditanyai namanya, dengan suara serak kesakitan, dan seolah bergeletar dari tempat yang jauh, ia mengeja huruf demi huruf: B-E-L-O-V-E-D. Beloved adalah nama anak Sethe yang tewas di tangan sang ibu ketika ia berusaha “melindungi” anak-anaknya, agar tidak diangkut jadi budak.

Singkat cerita, terjadi cinta segitiga antara Paul D, Sethe dan Beloved. Akhirnya, Paul D pergi ketika Sethe menyakini Beloved adalah anaknya dan berusaha menebus kesalahannya. Denver akhirnya minta bantuan komunitas penduduk lokal untuk mengusir roh jahat (Beloved). Muncul bantuan dari pria kulit putih dimana Denver akan bekerja padanya. Akhir kisah, Beloved akhirnya menghilang bersamaan dengan kembalinya Paul D. yang menyatakan cintanya kepada Sethe.

Namun yang menarik melalui eksplorasi tokoh Paul D, Aaron N Oforlea mengambarkan bagaimana diskursus politis dalam presentasi ras pada masa perbudakan hingga pada masa setelah masa perbudakan itu usai. Bagaimana perbudakan menyebabkan fragmentasi pada diri dan hilangnya identitas diri. Fragmentasi diri yang terjadi karena perbudakan bagaimana mereka karena perbudakan di masa lalu berusaha menghapus memori menyedihkan bahkan memungkiri keberadaan mereka di masa lalu pernah menjadi budak. Setidaknya itulah gambaran betapa pedihnya penderitaan negro akibat perbudakan,

Dari kedua karya sastra tersebut kita dapat memahami bagaimana identifikasi ras negro dan hubungannya mengapa ras negro menjadi minoritas. Toni Morisson melalui Beloved membuka sejarah perbudakan negro dan bagaimana mereka diopresi oleh kelompok dominan.  Toni Morrison melalui karya-karyanya menunjukkan identitasnya sebagai negro dan berjuang melalui karyanya untuk mengungkapkan betapa kejinya opresi mayoritas kepada negro sebagai minoritas. Karya Toni Morrison  yang dengan lantang menyuarakan kekejaman perbudakan itu membuatnya meraih Pulitzer pada tahun 1988 dan menjadi wanita kulit hitam pertama Amerika yang meraih nobel di bidang sastra.

Tapi ketika suatu saat saya sedang berbelanja di salah satu gerai, mendadak masuk pria kulit hitam, memakai gamis panjang, disitulah apa yang tersembunyi di pikiran saya diuji.  Beberapa pembeli sedikit mengeser tempat berdirinya. Saya pun akhirnya tanpa sadar mengikuti hanya saya berusaha sedikit berkomunikasi, “Please, ” kata saya singkat mempersilahkan sembari menunjukkan keranjang belanjaan saya yang berisi macam-macam snack anak-anak.  “Thank you,” kata pria berkulit hitam tersebut sembari meletakkan air mineral ukuran sedang yang ditentengnya.  Stereotype tentang pria kulit hitam ternyata begitu lekat bukan?

Bahan Bacaan:

  1. Black Males and the Self dari Constructing the Literary Self : Race and Gender in Twentieth-Century Literature, 2013. http://www.cambridgescholars.com/download/sample/58324 diakses 1 Mei 2017.
  1. Charles Fuller, A Soldier’s Play, https://marshajacksonjake.files.wordpress.com/2017/04/a-soldiers-play-by-charles-fuller.pdf diakses 1 Mei
  2. Toni Morisson, Beloved, http://publish.uwo.ca/~hamendt/WD%20final%20Project/litertaure/Beloved.pdf diakses 1 Mei 2017.

 

 

Advertisements

6 thoughts on “Black Males and the Self

  1. Kisah tentang Waters sangat tragis ya mba, ada orang-orang yang berusaha mecintai dirinya dengan cara orang lain, dengan kaca mata orang lain, dan membenci yang sebetulnya menjadi bagian utuh dan istimewa yang justru ada dalam dirinya. Padahal, tak sedikit juga orang kulit putih, atau orang dari kalangan mayoritas yang bersedia berdiri untuk golongan minoritas tanpa tendensi macam-macam. Hanya karena menyadari bahwa perbedaan yang ada tidak untuk dibuat pertentangan, apalagi membentuk kebencian dalamnya..

    Liked by 1 person

  2. Ketika kita tidak ingin dianggap sebagai seorang minoritas, yang ada kita malah mengopresi kelompok kita sendiri dan pada akhirnya kita tidak diterima di kelompok manapun. Itu yg aku tangkep dari tulisan mbak handri
    Keep being your self lah ya mbak… 😄

    Liked by 1 person

  3. Ada beberapa pertanyaan yang ingin saya tanyakan ke mbak Handrini, yakni antara lain: pertama, bagaimana opini Anda terkait identitas?; kedua, identitas seperti apa yang ingin Anda bangun dalam kehidupan sehari-hari?; ketiga, bagaimana tanggapan Anda mengenai permasalahan stereotype yang dikaitkan dengan identitas?; keempat, apakah Anda juga mempunyai stereotype atas identitas para laki-laki/perempuan berkulit hitam?; kelima, kalau Anda mempunyai penilaian negatif atas individu-individu berkulit hitam, kenapa hal tersebut dapat terjadi?; keenam, solusi seperti apa yang seharusnya dilakukan agar stereotype seperti itu tidak terus berlangsung dalam kehidupan ini?
    #041, #SIK041

    Liked by 1 person

    1. Kesadaran menegaskan diri tentang identitas berdasarkan pengalaman saya pribadi baru saya lakukan secara sadar ketika saya memutuskan mengenakan hijab setelah mengucapkan dua kalimat syahadat. Hal tersebut penting bagi saya untuk mempertegas identitas saya sebagai muslim ditengah saya yang pada waktu itu non Islam tentunya. Selain itu juga ada identitas sebagai perempuan yang terus menerus dibangun oleh Ibu saya “anak cewek kok mainan ular” atau “wong wadon kok pekokokan – anak perempuan kok duduk tidak sopan” atau “anak wadon kok dolane nang helikopter” dst.

      Stereotype saya tentang laki-laki kulit hitam? seksi dan cerdas hehe.. mungkin karena keseringan lihat Will Smith kali ya – kalau wanitanya sih seksi karena Beyonce dan Rihanna – suka sih hehe..

      Solusinya? sejauh tidak negatif sih saya cenderung tidak melakukan intervensi. Kecuali misalnya stereotype kesukuan “batak itu keras” yang akhirnya berubah ketika berinteraksi dengan Pak Akbar Tanjung yang sangat halus perangainya dan sangat menghargai orang misalnya. Memahami satu rangkaian pembentukan sifat secara bijak sangat diperlukan. Misalnya terkait dengan kehidupan bertetangga karena mayoritas Tionghoa di komplek rumah saya ya harus menyesuaikan dan memahami mengapa misalnya mereka sangat taktis sekali dalam bersosialisasi – berbeda dengan di Yogya misalnya kenal ga kenal selalu menyapa “Bade tindak pundi Bude dst” Karena budaya yang membentuk mereka dan setidaknya dengan memahami penyebabnya kita dapat lebih memaklumi

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s