Astaga! Suamiku ingin Pakai Gamis!

Kamis libur Waisak kemarin, saya dan suami berjalan-jalan di pusat perbelanjaan. Mendadak suami saya berhenti di sebuah counter merk tertentu dan menunjuk sebuah gamis pria yang terpanjang.

“Lihat dong Mas yang itu,” pinta suami. “Bahannya halus banget,” komen suami dengan nada bersemangat.

“Pa yakin mau beli ini?” tanya saya hati-hati. “Kenapa Ma, kemahalan ya?” suami balik bertanya. Bilangan harganya memang bikin pusing kepala, Rp.400 ribu kurang sekian ribu. Tapi rasanya tak pantas sebagai istri saya keberatan mengingat suami memberi begitu banyak lembaran berwarna merah sepulang mengikuti tugas luar kota beberapa hari. “Bukan karena harganya.. yakin Pa mau pake gamis kayak gini di Jakarta? Di Petamburan sih masih oke.. lhah kalau di lingkungan rumah? atau di kantor? Apa kata tetangga Pa? Kalau pakai gamis di Lombok sih oke-oke aja.. kalau di Jakarta?” bisik saya pelan. Saya lantas mengambil satu celana jeans dengan merk yang sama, “mendingan beli ini saja Pa,” bujuk saya.

Suami saya tertawa kecil, “Ternyata istriku belum siap ngeliat suaminya pakai gamis,” candanya. “Bukan gitu Pa.. apa ga aneh pakai gamis gitu .. ntar disangka FPI lagi, disangka Islam radikal,” seloroh saya. Suami saya sembari tertawa mengembalikan gamis itu ke mas penjual. Lalu mengambil celana dari jeans berwarna coklat lengkap dengan banyak kantong ala pendaki gunung yang saya sodorkan. “Jadinya ambil ini saja, Mas,” katanya. Lalu menatap dengan pandangan mengoda ke arah saya,”istriku ternyata belum siap melihat suaminya pakai gamis..” godanya.

Mendadak saya merasa tertampar membaca buku Mythologies – Roland Barthes. Ternyata saya sudah terperangkap mitos tentang gamis pria. Tayangan berita-berita belakangan ini di TV seolah memenjarakan makna gamis pria sebagai Islam Radikal.. Gamis ya FPI.. Gamis ya Habib Rizieq. Itulah ingatan yang melintas di kepala saya. Merasa tertampar sih iya, tapi apakah saya kemudian siap membayangkan penampakan suami saya saat mengenakan gamis?

Bahan Bacaan:

Roland Barthes, Mythologies

https://soundenvironments.files.wordpress.com/2011/11/roland-barthes-mythologies.pdf

#SIK041

Advertisements

3 thoughts on “Astaga! Suamiku ingin Pakai Gamis!

  1. Mbaaaaak…..
    Ilustrasi ini mengingatkanku pada perdebatan dengan ibu beberapa bulan lalu. Hijab lebar bahkan cadar di “wanti-wanti” oleh beliau agar aku tidak bercadar apalagi aku posisi di jakarta dan masih single. Hahaha
    Bagaimana ibuku menghubungkan kesingle-anku dg penampilanku yang berhijab lebar bahkan sampai diwanti-wanti jangan bercadar. Memang sih aku tahu beliau khawatir apalagi aku sekarang tinggal jauh tapi menghubungkan dua hal yang aku sebutin sebelumnya sepertinya masih karena mitos.

    Liked by 1 person

    1. Jadi pengin nangis dengar cerita Lail..ingat seorang sahabat pena -benar2 sahabat pena eh medsos – dia bercadar.. single sangat baik.. nah kebetulan ada Ustadz minta dicarikan akhwat buat taaruf eh keberatan jika akhwatnya pakai cadar karena ibunya keberatan. Susah menghilangkan mitos-mitos.. cewek bercadar -_-

      Like

  2. Sama seperti ketika sebelum mengobservasi etnis Tionghoa, saya memiliki mitos-mitos yang saya benarkan, seperti mereka pelit, eksklusif dll dll. Ketika itu saya hanya melihat luarnya saja, tanpa berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sekarang setelah mengobrol dan mengobservasi, ternyata ada alasan-alasan dibalik mitos tersebut. Intinya untuk menghilangkan mitos-mitos dari diri kita, kita mencoba untuk melihat lebih dalam.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s