Mainan

Saya, suami dan puteri ke-3 berada di satu gerai waralaba. Bocah perempuan itu mendekati suami saya dan berbisik-bisik. Tak lama kemudian suami mendekati saya.

“Putri pengin beli mainan, tapi khawatirnya Ma ga bolehin,” kata suami. Sudah biasa, suami selalu menjadi jembatan antara saya dengan anak-anak. “Emangnya mahal banget harga mainannya? Kenapa ga ngomong sama aku sendiri?” tanya saya. “Bukan itu.. janji ya Ma ga boleh marah, Ayo Putri bilang sendiri sama mama,” kata suami saya memberi semangat. Sambil tetap memegang tangan suami saya, Putri pun berkata,”Aku pengin dibelikan pistol-pistolan.. Mama ga marah kan? Bolehkan?” tanyanya dengan hati-hati.

“Beli pistol-pistolan?” tanya saya sedikit terkejut. Selintas saya melihat tatapan suami saya yang menyuruh saya langsung mengiyakan.  “Boleh kok.. ” jawab saya. Putri ketiga saya pun langsung menghilang diantara rak-rak besi dan kembali dengan sepucuk pistol mainan.

Astaga, ternyata beginilah rasanya ketika kita terjebak mitos-mitos. Bocah perempuan ya mainannya boneka. Kini saya jadi paham ketika Mami mengeryitkan wajah dan akhirnya marah ketika saya waktu SD membawa pulang ular sawah ke rumah. Ular tersebut akhirnya dilempar ke api sampah yang dibakar. Sebagai gantinya saya dibelikan anjing dan kucing anggora.

#SIK041

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s