Domestifikasi Perempuan: Menelusur Memori Kolektif dari Memori Media

Jelang lebaran dan sesudah lebaran, di Indonesia, mayoritas Ibu memperkerjakan asisten rumah tangga (ART) kerap kali mengalami keletihan melampaui  hari-hari biasanya.  Hal tersebut dikarenakan berlipatnya pekerjaan yang harus dilakukan oleh para ibu. Jika biasanya pekerjaan rumah tangga ada yang membantu, ketika jelang lebaran atau sesudah lebaran maka para ibu harus menyingsingkan lengan lebih tinggi. Jika memiliki rejeki lebih maka para ibu tersebut dapat memilih memperkerjakan ART infal atau penganti dengan upah yang berkali lipat lebih mahal. Mengapa hal terjadi? Hal tersebut karena adanya pemisahan pekerjaan rumah tangga yang lebih tertumpu pada kaum ibu.  Pekerjaan rumah tangga ternyata bukan sesuatu yang netral gender. Pekerjaan mencuci mobil, membetulkan atap rumah misalnya adalah pekerjaan laki-laki. Pekerjaan memasak, menyapu, mengepel, menyuci dan menyetrika pakaian adalah pekerjaan wanita. Jadi bisa dibayangkan bukan betapa pekerjaan perempuan bukanlah sesuatu yang ringan? Lantas sejak kapankah pemahaman domestifikasi perempuan itu terjadi?

Untuk dapat menjawab hal tersebut salah satu caranya adalah dengan melakukan penelitian telusur sejarah terhadap media yang dikenal dengan memori media.  Kajian tentang memori media merupakan sebuah kajian turunan dari penelitian media dengan multidisiplin dan interdisiplin. Memori media memiliki konsep teoritis dan analitisnya yang bersifat kompleks. Salah satu fungsi dari kajian memori media adalah untuk mempelajari fungsi media sebagai memory agents. 

Domestifikasi perempuan tanpa disadari di masa lalu terus menerus diwariskan melalui berbagai media.  Salah satu media yang mewariskan domestifikasi perempuan adalah media film.  Salah satu domestifikasi adalah mewariskan pemahaman bahwa mengasuh anak adalah “pekerjaan wanita”. Setidaknya itulah yang saya pahami dari film “The Sound of Music” – salah satu film layar lebar favorit saya semasa saya kecil.

the sound of music
Salah satu adegan film The Sound of Music yaitu saat suster Maria mendongeng kepada ke-7 anak Kapten Von Trapp menjelang tidur. Foto diambil dari sini

Film The Sound of Music  adalah film musikal tahun 1965 yang diangkat dari buku Maria Von Trapp yang berjudul The Von Trapp Family Singers.  Bagi saya pribadi film  The Sound of Music mampu mempolitisir pemikiran saya yang masih kecil bahwa mengasuh anak adalah tugas seorang ibu, karenanya ketika seorang Ibu meninggal dunia – ibu dari ke-7 anak Kapten Von Trapp, maka secara dicarilah penganti yang bertugas melaksanakan tugas seorang Ibu – yang dalam film The Sound of Music Suster Kepala meminta suster Maria untuk mengasuh ke-7 anak dari Kapten Von Trapp. Tapi, itu adalah film di tahun 1965. Yang artinya menjadi menarik ketika kita melakukan bagaimana praktik-praktik pelanggengan domistifikasi perempuan terjadi melalui pelangenggan memori kolektif yang dilakukan dengan mengunakan media. Menariknya studi untuk mengetahui pergeseran pemikiran tentang domistifikasi perempuan juga dapat dilakukan dengan cara studi media yaitu dengan cara melihat bagaimana sebuah “ideologi” atau pemikiran tentang domestifikasi perempuan – bahwa mengasuh adalah tugas perempuan, membersihkan rumah, memasak adalah tugas perempuan dapat dilakukan antara lain dengan cara melakukan  penelitian studi media antara lain dengan membedah dengan mengunakan perspektif feminisme misalnya tentang bagaimana film-film dari periode ke periode mengambarkan tentang satu isu (:domestifikasi perempuan).

Salah satu contoh menarik adalah gambaran yang menarik dari sebuah miniseri Korea Selatan yang berjudul Prime Minister and I. Pada salah satu adegan dalam miniseri yang sukses di Korea Selatan dan sejumlah negara lainnya tersebut digambarkan bagaimana seorang Perdana Menteri  Korea yang sibuk, tegas dan terkesan dingin – yang kehilangan istrinya dalam sebuah kecelakaan pada suatu waktu dapat berperan menjadi ibu untuk ketiga anaknya.

Melawan Domestifikasi Perempuan
Salah satu adegan “Prime Minister and I” menampilkan Perdana Menteri Kwon Yool mengenakan celemek berwarna pink muda sedang memasak untuk ketiga anaknya. Foto diambil dari sini

Adegan itu bagi saya menjadi menarik, karena dari beberapa tayangan yang sempat saya ikuti secara khusus melalui KBS World, Perdana Menteri Kwon Yool digambarkan sebagai politisi yang tegas – namun dengan satu adegan dia mengunakan celemek berwarna pink muda menunjukkan miniseri ini tanpa kita sadari tengah mengeser pemikiran domestifikasi perempuan. Pergeseran pemikiran tentang domestifikasi perempuan dalam sejumlah karakter miniseri Korea yang muncul pada tahun 2012 msalnya melalui karakter dokter Kang Mo Yeon dalam Descendants of The Sun yang digambarkan sebagai sosok wanita mandiri yang berprofesi sebagai dokter bedah dan bercita-cita menjadi dokter bedah yang hebat. Menariknya bahkan sebagai dokter bedah dia tidak mempermasalahkan penghasilan pria yang nantinya akan dia nikahi atau melalui karakter Han Da Jin – yang dikisahkan sebagai pilot wanita yang gigih dalam film Take Care of Us, Captain! yang tayang tahun 2012. Han Da Jin gigih mewujudkan cita-citanya menjadi pilot meski ia harus menjadi “orang tua tunggal” setelah meninggalnya ayahnya dan ibunya yang meninggal sejak melahirkan adiknya ditambah beban bibinya yang gemar bermain judi.

Take-Care-of-Us-Captain-7
Han Da Jin, salah satu karakter dalam Take Care Of Us, Captain! Salah satu drama Korea yang “melawan” domestifikasi perempuan. foto diambil dari sini

Meski demikian dari foto tampak bukan bahwa Han Da Jin merupakan minoritas? Miniseri tersebut hanyalah satu dari sekian banyak contoh miniseri Korea yang menghadirkan sosok wanita tangguh yang diputar pada tahun 2010 ke atas. Selain kedua contoh drama tersebut ada juga Sungkyunkwan Scandal – yang dirilis pada tahun 2010. Sungkyunkwan menceritakan tentang Kim Yoo Hee, seorang perempuan pemberani dan cerdas yang mampu masuk ke Sungkyunkwan University yang ada di era Joseon. Sungkyunkwan University adalah sekolah khusus para bangsawan guna menjadi pegawai pemerintahan. Menarik bukan? Namun akan lebih menarik lagi jika kita melakukan studi media untuk mengetahui bagaimana pergeseran pemikiran tentang domestifikasi perempuan dengan cara melakukan studi terhadap memori media.

Referensi:

Media Remembering: the Contributions of Life-Story Methodology to Memory/Media Research Bourdon, Bab 4 dalam dalam On Media Memory Collective Memory in a New Media Age, 2011

Advertisements

6 thoughts on “Domestifikasi Perempuan: Menelusur Memori Kolektif dari Memori Media

  1. Seringkali melalui film seperti ini ya banyak pesan-pesan halus yang diterima juga secara halus oleh kita, jika tak pandai-pandai mengkritisi. Dan hal tersebut terakumulasi, terinternalisasi, dan menjadi bagian dari diri kita -mungkin- tanpa kita sendri pernah menyadarinya.
    Membaca tulisanmu mbak, aku jadi terpikir mengenai media apa saja yang sedang sering ku konsumsi belakangan ini, bagaimana karakter media tersebut, dan apa relevansinya dengan perilaku aku sekarang..semacam membuat rekam jejak sembari mengevaluasi,memetakan nilai yang kusukai atau tidak kusukai, menelusuri dalam media mana aku terkena sedikit banyak pengaruh tersebut, dan memberi treatment pada media tersebut. Terdengar menyenangkan buatku 🙂
    Makasih sudah berbagi mba..

    Like

  2. Pernyataan mba hani diatas kira-kira apa yang aku rasakan semenjak mengambil jurusan komunikasi..😁
    “saya hasil bentukan dari media apa dan konten media yang saya konsumsi” kalau mbak hani merasa hal tersebut menyenangkan, bagiku aku justru khawatir, wondering siapa aku yang sebenarnya.

    Like

  3. Membaca ilustrasi yang diberikan mbak handri jadi ingat beberapa pembahasan lalu. Aku pakai kata beberapa karena yang keinget memang lebih dari satu.
    Bagaimana domestifikasi diidentikkan dengan perempuan, bagaimana memori kita dibentuk oleh media, bagaimana kita akhirnya merepresentasikan sesuatu atau seseorang karena itu….
    Begitu banyak PR yang kemudian muncul untuk membenahi semua itu

    Liked by 1 person

  4. Sebagai penonton beberapa drama Korea, saya melihat bahwa memang drama korea banyak menampilkan performa gender yang berbeda dengan arus utama. Laki-laki memasak, perempuan jago berkelahi, dll. Jadi sudah biasa mungkin bagi saya melihat laki-laki melakukan pekerjaan perempuan dan juga sebaliknya. Memori saya menjadi terbentuk karena itu.

    Like

  5. Menarik membaca artikelnya mbak Handrini yang dengan cerdas mampu merefleksikan bahan bacaan ‘Media Remembering: the Contributions of Life-Story Methodology to Memory/Media Research Bourdon, Bab 4 dalam On Media Memory Collective Memory in a New Media Age (2011),’ melalui pemberian contoh-contoh dari judul film/drama yang sering ditontonnya. Akan tetapi, mbak Handrini sayangnya hanya menampilkan contoh-contoh berupa produk-produk film/drama yang berasal dari luar negeri, yang saya kira secara kultural berbeda dengan konteks di Indonesia, meskipun tema tentang domestifikasi perempuan ini bersifat universal. Apalagi, mbak menyampaikan bahwa memori kolektif tentang domestifikasi perempuan, dapat ditelusuri melalui memori media. Kita sebagai Pembelajar Minoritas Indonesia, sebaiknya perlu juga menampilkan contoh-contoh dari media lokal terkait dengan isu domestifikasi perempuan di Indonesia. Bagaimana tanggapannya?, mbak.
    #041, #SIK041

    Liked by 1 person

    1. hihi iya Mas, maaf. Saya terbiasa didik mami untuk menonton film barat karena film Indonesia kampungan karena di jaman saya kecil isinya Suzanna dengan Sundel Bolong atau Nyi Blorong.. Di film Indonesia dan bahkan di sinetron domestifikasi perempuan sangat ditonjolkan juga sih menurut saya meski saya hanya selintas-selintas saja melihat untuk sinetron. Tapi setidaknya dari satu sinetron yang saya cukup ikuti misalnya “Surga Yang Tak Dirindukan” adalah salah satu potret film domestifikasi perempuan, Arini dan Meirose bahkan ibunya Arini hanya digambarkan sebagai ibu rumah tangga biasa berbeda dengan film Tjut Nyak Dien misalnya yang jelas membuktikan kegigihan dan kepemimpinan perempuan melawan penjajah

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s