Stereotipe: Waspadai Dampak Terpaan Media

Bradley W. Gorham dengan mengunakan studi eksperimennya berupaya menganalisa dampak terpaan media terhadap stereotipe yang dimiliki tiap individu. Studi eksperimen Gorham dilakukan dengan meminta siswa-siswinya untuk menonton salah satu serial ABC Nightline episode tanggal  25 September 1996 yang memperlihatkan pria kulit hitam yang mengenakan t-shirt putih dalam posisi menembak. Adegan tersebut tentu saja menuntun pemikiran kita bahwa pria berkulit hitam tersebut adalah kriminal.

Ada banyak penelitian yang menjelaskan tentang bagaimana sikap individu terkait dengan group sosial mereka seperti teori ultimate attribution error yang dikemukakan Thomas Pettigrew (Pettigrew, 1979) yang menjelaskan tentang “ingroups” dan “outgroups” sebagai fungsi dan “internal’ serta “eksternal” sebagai penyebab. Ingroups yang dimaksudkan disini adalah ketika kita merasakan sebagai bagian dari dan outgroups ketika kita merasa tidak seperti kita.  Teori ini berupaya menjelaskan ketika di sisi lain, sikap seseorang tidak terhubung dengan karakteristik individu (Gorham, 1983: 17).

Pada studinya dengan mengunakan metode eksperimen inilah Gorham berupaya menjelaskan stereotipe dan efeknya terhadap audiens. Gorham melalui studinya menjelaskan bahwa stereotipe ada di pikiran setiap individu apakah individu menyadari prasangka atau tidak. Gorham menyatakan bahwa stereotip adalah “struktur dalam pikiran kita” atau “skema” yang membantu individu untuk secara efektif dan mudah menerjemahkan pesan mereka mungkin melihat tentang sekelompok orang berdasarkan pada karakteristik yang berlaku beberapa kelompok tertentu. Dengan demikian, skema tersebut memungkinkan bagi seorang individu untuk mengetahui “spesifik” dari sekelompok orang dan apa yang diharapkan dari kelompok itu. Akibatnya, harapan-harapan ini diterapkan secara langsung ketika kita menghadapi seorang individu dari ras tertentu atau kelompok sosial yang pada gilirannya mempengaruhi cara kita menafsirkan situasi.

Gorham kemudian menyimpulkan bahwa  kita mengembangkan kesimpulan tentang seseorang secara tidak langsung akan dipengaruhi oleh kelompok-kelompok sosial yang terhubung secara langsung dengan kita. Oleh karena itu, jika seorang individu yang merupakan bagian dari kelompok yang didentifikasi membuat kesalahan,  maka dia lebih cenderung untuk memaafkan atau lebih pemahaman daripada jika seorang individu yang tidak terhubung dengan kelompok yang dianggap berbuat salah. Dengan demikian, stereotipe bekerja dalam mendukung mayoritas.

Gorham berpendapat bahwa kita secara otomatis menempatkan stereotipe pada individu, sering kali tanpa niat untuk berprasangka. Meskipun kadang-kadang tidak sadar, prasangka otomatis terjadi dan ini merupakan sebuah permasalahan yang harus ditangani. Gorham menghadapkan situasi ini dalam menyatakan bahwa satu-satunya cara untuk mengakhiri  interpretasi stereotipe yang kongruen dari media (stereotipe yang di”tanamkan”media terasa cocok dengan kita) adalah dengan cara memahami bagaimana kita secara sadar mengambil keputusan terkait dengan prasangka alam bawah sadar kita yang telah ditanamkan didalam diri kita sehingga kita dapat menafsirkan atau menginterpretasikan pesan dari media dengan baik atau membuat pesan di media baru (;media sosial misalnya) yang mana pesan tersebut tidak mengandung unsur-unsur bias prasangka.

Pemahaman tentang apa yang dikemukakan Gorham pada kontek kondisi saat ini terpaan budaya korea yang menimpa generasi muda di Indonesia (korean wave) dapat dijadikan studi yang menarik untuk mengetahui bagaimana gambaran perempuan ideal dan tidak ideal dalam budaya Korea. Misalnya dalam serial Oh My Lady digambarkan sosok perempuan ideal adalah yang tulus, penuh pengertian dan memberikan kedamaian. Sedangkan sosok perempuan tidak ideal adalah yang menguasai pria dan memaksa. Akan menarik tentunya dengan mengunakan pemikiran Gorham kita menjelaskan bagaimana stereotipe perempuan yang ada dalam budaya Korea seiring dengan terpaan Korean Wave mempengaruhi stereotipe tentang perempuan pada audiens yang berasal dari budaya yang berbeda-beda misalnya terhadap audiens batak, Jawa, Padang dan budaya lainnya yang memiliki stereotipe berbeda-beda tentang perempuan.

Bahan Bacaan:

Considerations of Media Effects: The Social Psychology of Stereotypes: Implications for Media Audiences  http://www.appstate.edu/~hallcl/READING%20ASSIGNMENTS/3534%20gorham.pdf

Advertisements

Diskursus, Kuasa dan Subyek: Memahami Hak Politik Perempuan dalam Diskursus Kebijakan

Menelaah pemaparan Alec Mc. Houl dan Wendy Grace tentang pemikiran Foucault dalam buku mereka berjudul  “A foucault primer:  discourse, power and the subject” akan mempermudah bagi kita yang baru mempelajari pemikiran Foucault. Melalui buku ini, diuraikan dengan lugas berbagai asumsi dasar yang digagas Foucault tentang diskursusm kuasa dan subjek dalam pemikiran Foucault. Alec Mc.Houl dan Wendy Grace berpendapat bahwa tema diskursus, kuasa dan subyek merupakan ide primer dari Foucault. Menurut Alec Mc. Houl dan Wendy Grace, gagasan Foucault tersebut merupakan jawaban atas pertanyaan dasar, siapakah kita, pengetahuan kita tentang diri kita,  format etis/atau standar etika seperti apa yang mengerakan kita, yang menentukan kita bertindak.

The term ‘discourse’ refers not to language or social interaction but to relatively well-bounded areas of social knowledge. Bahwa analisa diskursus (discourse) yang digagas Foucault bukan tentang dikursus bahasa ataupun interaksi sosial melainkan tentang pengetahuan sosial (1983:31). Artinya, dalam konsep Foucault, diskursus mengandung pengertian akan adanya kuasa (power) di balik pernyataan-pernyataan (:bahasa) tersebut. Diskursus dipercayai sebagai piranti yang membentuk relasi kuasa dalam masyarakat melalui proses-proses pendefinisian, pengisolasian, pembenaran. Kuasa dalam diskursus menentukan pengetahuan.

Jadi, berbeda dengan pemikiran strukturalis memandang bahwa kuasa itu terpusat, dimiliki oleh kelompok superior untuk mengatur golongan inferior. Sedangkan menurut Foucault, kuasa itu tidak dimiliki tetapi hadir dalam relasi-relasi yang membentuk diskursus; membentuk sebuah kebenaran. Hal inilah yang juga terjadi dalam konteks bagaimana pengetahuan tentang minoritas, gender dibentuk.

Power is both reflexive, then, and impersonal. It acts in a relatively autonomous way and produces subjects just as much as, or even more than, subjects reproduce it (1993:23). Jadi kuasa itu sendiri bersifat reflektif, impersonal. Kuasa bergerak secara automatik dan relatif dan memproduksi subjek dan subjek memproduksi kuasa. Begitulah, subjek diproduksi oleh diskursus sebagai efek dari praktik dan formasi diskursus itu sendiri. Diskursus yang menciptakan posisi subjek. Bagaimana kuasa bekerja lewat regulasi dan normalisasi. Melalui normalisasi dan regulasi  serta pengetahuan masyarakat yang digerakkan.

Sebagai contohnya,  saya ingin mengajak kita kembali pada tahun 1918-an. Mungkin diantara kita menganggap hak memilih dalam pemilihan umum (pemilu) yang kita miliki adalah hal yang tidak istimewa. Namun pernahkah kita bayangkan bagaimana upaya memperjuangkan hal yang “tidak istimewa” itu ditahun 1918-an?

Adalah film Iron Jawed Angels (:film ini kebetulan saya tonton pada 18 maret 2017 pukul 16.00 WIB di sebuah saluran pay TV) yang mengkisahkan dengan detail tentang aturan yang menabukan wanita untuk berbicara mengenai hak memilih bagi wanita pada tahun 1918. Ini adalah contoh nyata mengenai salah satu bentuk kuasa yang bekerja dalam masyarakat. Efeknya dapat dilihat dari eksklusi terhadap wanita yang berbicara hak memilih secara gamblang, biasanya mereka akan dicap sebagai bukan wanita “baik-baik”. Inilah yang dimaksud Foucault dengan normalisasi. Kekuasaan tidak pernah lepas dari pengetahuan. Untuk itu, Foucault mengatakan bahwa kekuasaaan menghasilkan pengetahuan. Bagaimana wanita yang berani berbicara tentang hak memilih tidak hanya mendapat tekanan dari Presiden dan pihak yang berkuasa melainkan juga cemooh dari masyarakat.

Merefer film “Iron Jawed Angels” yang mengkisahkan bagaimana beratnya perjuangan Alice Paul dan Lucy Burns – yang usai menempuh pendidikan di Inggris untuk memperjuangkan “Amandemen Konstitusi” terhadap Presiden Amerika (Woodrow Wilson). Mereka akan menuntut Amandemen konstitusi yang mengatur mengenai hak kewarganegaraan – agar perempuan juga bisa diberi hak pilih dalam pemilu.

Yang menarik dalam tataran analisa diskursus, dimana konsekuensi dari pengertian kuasa yang dibangun Foucault adalah  kuasa tidak bisa dimiliki, artinya cair atau tersebar, melahirkan konsepsi resistensi, demikianlah gambaran yang dapat kita peroleh dalam film Iron Jawed Angels – bahwa setiap subjek bisa membentuk wacana baru, dan menelurkan kebenaran baru. Bukan dalam bentuk prokontra, protagonis-antagonis, tapi masih dalam kerangka melestarikan kuasa yang terselip dalam sebuah ide kebenaran – dalam hal ini hak memilih bagi perempuan. Bagaimana Alice Paul dan lainnya dipaksa berjuang demikian gigih, ditangkap, dimasukan ke rumah sakit jiwa karena melakukan aksi mogok makan, dipaksa menelan makanan (:telur yang sudah diaduk) dengan cara memasukan selang makanan ke mulut dan hidung. Hingga akhirnya perjuangan Alice Paul  membuahkan hasil ketika istri seorang senator yang ikut dipenjara berhasil menyelipkan pesan ke suaminya tentang penganiayaan selama dipenjara, yang akhirnya melalui teman pria Alice Paul diekspos di media yaitu Washington Post. Tersebarnya berita tersebut mengubah opini publik.

Dalam konteks kekinian, bagaimanakah pandangan kaum perempuan terhadap salah satu calon/kandidat wakil Gubernur DKI Jakarta 2017 yang berjenis kelamin perempuan misalnya? Atau bagaimana masyarakat memandang kandidat Cawagub perempuan yang bergelar Profesor sekaligus merupakan Istri dan Ibu tersebut? Bagaimanakah pemerintah memandang hak perempuan dalam kerangka diskursus kebijakan? Berbagai pemikiran tersebut tentulah berbagai isu terkini seperti hak politik perempuan menjadi menarik untuk diteliti dalam kontek diskursus sebagaimana digagas oleh Foucault.

Begitulah akhirnya diskursus, kekuasaan dan subjek terus menerus berupaya mempengaruhi pengetahuan. Bagaimana konsepsi dan praktik yang menyatu dalam pembentukan diskursus. Bagaimana diskursus sebagai praktik sosial, yang berperan dalam mengontrol, menormakan dan mendisiplinkan individu dalam rangkaian hubungan dengan kekuatan sosial yang ada pada masyarakat.

Dengan mengetahui diskursus tersebut kita dapat mengetahui siapakah kita di masa itu. Atau mengetahui siapa kita di masa sekarang, jika kontek waktu analisis diskursusnya dilakukan pada masa sekarang. Bagaimana pembentukan pengetahuan dipengaruhi oleh diskursus dan relasi kekuasaan.

Lantas bagaimanakah analisa diskursus itu dapat dilakukan? Apakah yang dapat dijadikan unit dari analisa diskursus? Mungkinkan statement? Bisa jadi, karena statement adalah cara pendekatan termudah. tapi statement disini bukan sikap individual tapi sikap organisasi. Misalnya dalam kontek film “Iron Jewed Angels” misalnya bagaimana sikap Kongres Amerika dan Senat Amerika Serikat terhadap tuntutan memberikan hak politik kepada wanita pada tahun 1918-an.

Metode analisis diskursus Foucault  di lhami dari arkeologi dan genealogi ini mengajarkan kepada kita bagaimana kita menganalisis dan interpretasi teks pernyataan’ bisa menjadi objek sekaligus subjek. Proses penulisan hasil penelitian akan menafsirkan hasil penggabungan  antara material dan praktek diskursif yang berbentuk arsip, transkrip, literatur, produk kebijakan dan sejarah (hakpolitik perempuan di Indonesia) dan memunculkan subjek dan objek Hak Politik Perempuan dalam relasi kuasa misalnya.

#minoritas

Bahan Bacaan:

McHoul, Alec & Wendy Grace.1993. A Foucault Primer: Discourse, Power, and the Subject.London: Routledge

file:///C:/Documents%20and%20Settings/User%20Account/My%20Documents/Downloads/A%20Foucault%20Primer%20Discourse,%20power%20and%20the%20subject%20%E2%80%93%20Alec%20McHoul%20dan%20Wendy%20Grace.pdf

Era Pemasaran Multikultural: Pangsa Pasar yang Menjanjikan

Apakah anda mengenal Pizza Hut? Apakah anda menyukai pizza hut? Jika belum mengetahui bahwa pizza adalah makanan asli Italia, bisa jadi mengira bahwa pizza adalah makanan asli dari Amerika. Namun siapa sangka, justru Yum! yang merupakan perusahaan induk dari Pizza Hut yang berpusat di Plano, Texas , Amerika Serikat ini  yang merajai pemasaran makanan asli dari Italia ini. Mengapa demikian? Penguasaan strategi pemasaran multikultural adalah kata kuncinya.

Sebagaimana dikemukakan dalam Nielsen, memperhatikan konsumen dari berbagai latar belakang budaya yang berbeda-beda atau konsumen multikultural bisa jadi akan menjadi kunci kesuksesan  di masa depan. Bukan hanya karena jumlah mereka, melainkan juga karena potensi ekonomi karena kekuatan ekonomi mereka menjadikan mereka memiliki pengaruh yang belum pernah terjadi sebelumnya dan kebiasaan mereka dalam mengkonsumsi dari konsumen multikulkural yang menjadikan asumsi tentang peluang pasar menjadi tertinggal dan memperluas dan memperbesar peluang pasar berbasis multikultural (Nielsen, 2015:2). Atau dengan ringkas dapat disimpulkan bahwa konsumen multikultural ke dalam strategi secara keseluruhan adalah kunci. Pernyataan tersebut berdasarkan data tentang  demografi di Amerika Serikat sebagai berikut:

Tabel 1. Demografi Penduduk Amerika Serikat  Berdasarkan Ras Tahun 2010

multikultural konsumen

sumber: Nielsen, 2015:11.

Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa konsumen potensial di Amerika Serikat saat ini adalah dari kelompok hispanik (warga Amerika Serikat keturunan dan berbahasa Spanyol  maupun Portugis) yang mencapai jumlah 56,5%, menyusul kemudian penduduk asia-amerika sebanyak 52,3%, dan penduduk afrika-amerika sebanyak 42,3%. Sementaran konsumen potensial dari kulit putih Amerika Serikat hanya mencapai angka 36,7%. Dengan kata lain konsumen potensial Amerika Serikat saat ini adalah pasar multikultural.

Peta pemasaran di Amerika Serikat ini semakin komplek bila kita melihat komposisi penduduk Amerika Serikat berdasarkan usia sebagaimana tabel berikut:

Tabel 2. Komposisi Penduduk Amerika Serikat Berdasarkan Usia Tahun 2013

berdasarkan usia

Sumber: Nielsen, 2015:10

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa demografi penduduk usia muda lebih banyak dari multikultural. Gen next merupakan konsumen potensial berdasarkan karakteristik di usia mereka. Karakteristik pola konsumtif mereka pun berbeda. Mereka cenderung mencari tahu sendiri tentang produk baru yang ada di pasaran melalui internet dan lebih aware dengan produk baru yang ada di lingkungan sekitar mereka. Karena itu strategi pemasaran pun harus disesuaikan.

Sementara disisi lain angka demografi penduduk kulit putih terus mengalami penurunan dan pada tahun 2030 diprediksikan akan terus mengalami penurunan setiap tahunnya dan angka pertumbuhan penduduk Amerika Serikat dengan sendirinya akan menjadi multikultural.

angka pertumbuhan kulit putih di amrika menurun secara otomatis

Nielsen, 2015: 9

Potret kondisi pangsa pasar di Amerika Serikat mengambarkan bagaimana akhirnya kepentingan ekonomi telah membuat kelas minoritas “naik kelas”. Hal tersebut disebabkan karena pemasar harus mampu menangkap kelas mayoritas sebagai pangsa pasar baru yang potensial.

Pasar multikultural memiliki karaktersitik yang berbeda dengan pasar kulit putih. Mereka memilih dan membeli barang sesuai dengan budaya mereka. Mereka membeli dan mengkonsumsi barang sesuai dengan self-image atau citra diri mereka. Disisi lain posisi mereka sebagai “trendsetters” dan “tastemakers” bagi kelompok mereka semakin menguatkan posisi mereka. Karakter pasar multikultural yang menjalin hubungan dalam jangka panjang semakin membuat produsen harus mampu menemukan kunci untuk menciptakan hubungan produsen-konsumen dalam jangka panjang. Sifat konsumen multikultural yang expressive, inclusive dan ambiltucltural indentity, mereka terhubung secara mobile dan multi etnik dan multi generasi menjadikan strategi pemasaran menjadi berubah.

Lantas bagaimana dengan kondisi pemasaran di Indonesia? Marilah kita tenggok di lingkungan sekitar kita. Satu contoh yang sederhana saja, ketika kita sedang berwisata, kita kelaparan dan ingin segera mengisi perut, kemanakah kita akan menuju? Bisa jadi mayoritas diantara kita menjawab “Rumah Makan Padang”. Mengapa demikian? Berbeda dengan konsep rumah makan Sunda – yang biasanya baru diolah setelah dipesan terlebih dahulu, maka rumah makan Padang telah menyiapkan berbagai menu masakan yang sudah disajikan di lemari kaca secara bersusun-susun. Tak jarang mereka mengunakan konsep menyajikan secara cepat berbagai pilihan menu di meja kita. Kita tinggal memilih masakan yang mengundang selera makan kita dan langsung kita santap tanpa perlu memesan dan menunggu.

Sebaliknya, ketika kita ingin kumpul-kumpul sekaligus makan siang, maka kita akan memilih rumah makan Sunda. Rumah makan Sunda biasanya berbentuk saung-saung (rumah dari bambu) lengkap dengan dikelilingi kolam-kolam yang berfungsi untuk memelihara ikan yang merupakan alternatif menunya. Sembari menunggu masakan dihidangkan dalam waktu yang tak terlalu cepat, kita bisa bercengkrama dengan keluarga kita sembari menikmati keindahan kolam dan saungnya. Kondisi ini tentu tidak akan kita dapatkan ketika kita bersantap di rumah makan Padang misalnya.

Namun contoh tersebut adalah di dunia kuliner. Bagaimana di jagad industri media? Apakah kondisi pangsa pasar yang berubah mampu “memaksa” perubahan peta realitas yang disajikan media? Tentu saja. Semalam, saya baru saja menonton film “My Name is Khan”. Siapa sangka film yang dimainkan Shah Rukh Khan telah memecahkan rekor sebagai film India dengan pendapatan terbanyak yang diputar di Amerika Utara. Berlatar belakang tanggal 11 September 2001 Menara Kembar WTC diledakkan oleh teroris, film ini mengkisahkan phobia dan sentimen hebat pada agama Islam di Amerika Serikat. Penduduk Amerika yang beragama Islam atau keturunan Arab dikucilkan termasuk keluarga Risvan Khan. Mandira dan Sameer biarpun tidak beragama Islam juga ikut dimusuhi karena Mandira menikah dengan Risvan yang Muslim. Karena cintanya kepada Risvan, Mandira pada awalnya bisa menerima keadaan itu dan tetap setia mendampingi Risvan. Tetapi suatu ketika pada tanggal 27 November 2007, Sameer yang berusia 13 tahun marah kepada teman-teman sekolahnya karena dihina sebagai anak teroris, akibatnya Sameer dihajar beramai-ramai sehingga terluka parah dan akhirnya tewas. Mandira sudah melaporkan pembunuhan anaknya itu ke polisi tetapi sia-sia karena tidak ada saksi mata yang melihat peristiwa pembunuhan itu sehingga tidak bisa dilacak siapa pembunuhnya. Sebenarnya ada saksi yang melihat pembunuhan itu yaitu sahabat Sameer yang bernama Reese tetapi ia takut bersaksi karena diancam oleh para pembunuh Sameer. Dengan kematian putra satu-satunya, Mandira habis kesabarannya dan akhirnya menarik kesimpulan hal itu disebabkan karena ia menikah dengan Risvan Khan yang Muslim dan pada namanya dan nama anaknya ditambahi marga Khan. Mandira sangat marah dan mengusir Risvan. Mandira hanya bisa memaafkan Risvan jika Risvan bisa bertemu Presiden Amerika dan mengatakan bahwa ia bernama Khan dan bukan teroris.

Film mengharu biru arahan Karan Johar ini diperkirakan menghasilkan US$15.500 dari 120 bioskop di AS dan Kanada pada akhir pekan 12-14 Februari 2009.  Saat diluncurkan Jumat (12/2/2010), My Name is Khan langsung mendapatkan US$444 ribu, lalu langsung meningkat 65% menjadi US$734.000 Sabtu (13/2/2010). Menjadi menarik ketika kita teliti lebih lanjut di daerah mana saja film My Name is Khan laris manis? Tentu di daerah yang sama film yang ditayangkan di HBO semalam, 13 hours: The Secret Soldier of Benghazi  besar kemungkinan akan memperoleh angka yang berbeda.

Film 13 Hours mengkisahkan enam personil tim keamanan yang terdiri dari para mantan anggota militer. Mereka berusaha bertahan dan melawan serangan teroris yang menyerang anggota diplomatik Amerika Serikat di Benghazi, Libya. Kejadian ini menewaskan empat warga Amerika, termasuk Duta Besar J. Christopher Stevens. Duta Besar AS John Christopher Stevens tewas dalam serangan di Konsulat AS di Benghazi, Libia, pada Selasa malam (11/09/2012). Kekerasan di Benghazi terjadi menyusul unjuk rasa di Mesir yang menentang sebuah film tentang Nabi Muhammad yang dibuat oleh warga AS. Para tersangka penyerangan tersebut langsung ditangkap pada Kamis (13/09/2012) berdasarkan keterangan Wakil Menteri Dalam Negeri Libia Wanis al-Sharif. Karenanya, menjadi menarik apabila kita dapat melakukan penelitian tentang di daerah mana saja film My Name is Khan mendapatkan angka penonton tertinggi dan bagaimana angka penonton di daerah yang sama dengan film yang mengkisahkan stereotipe yang berlawanan dengan My Name is Khan?

Konsumen muslim Amerika bisa jadi belum melampaui jumlah sebagai pangsa pasar yang menguntungkan sebagaimana halnya kelompok Hispanik yang “dulu”nya adalah minoritas menjadi “naik kelas”. Akan tetapi di sejumlah negara misalnya, sudah memperhatikan pasar multikultural ini dalam berbagai bisnisnya. Salah satunya adalah ditawarkannya “wisata halal” di berbagai negara termasuk di Spanyol. Pertumbuhan ekonomi muslim yang dinamis dengan pertumbuhan yang melampaui rata-rata pertumbuhan kekuatan ekonomi dunia telah memunculkan kelas menengah muslim dengan kekuatan ekonomi dan pola konsumsi yang lebih besar dari kekuatan ekonomi dan pola konsumsi barat. Berdasarkan data, 65 juta wisatawan mengunjungi Spanyol pada tahun 2014. “Kesadaran” akan pangsa pasar turis muslim juga terjadi di Inggris.

Namun, sekali lagi, apakah keberadaan konsumen multikultural menjadikan mereka “raja”? Tentu saja tidak. Kelompok dominan tentu saja akan mengunakan segala cara untuk melanggengkan kekuasaan mereka melalui frame-frame yang melanggengkan kekuasaan kelompok dominan. Meski demikian, kepentingan ekonomi akhirnya mendorong kelompok yang awalnya adalah merupakan kelompok minoritas tersebut menjadi “naik kelas. Mulai kapankah kemunculan film-film Hollywood dengan bintang-bintang seperti Jessica Alba dimulai?

Jessica-alba-fantastic-four-

sumber foto: http://vignette3.wikia.nocookie.net/marvelmovies/images/e/ee/Jessica-alba-fantastic-four-.jpg/revision/latest?cb=20120903221827

Jessica Alba adalah artis Hollywood berdarah Mexico yang membintangi sejumlah film seperti menjadi Sue Storm dalam Fantastic Four, Honey,  Awake, Sin City dan berderet judul film lainnya. Setelah sebelumnya juga membintangi serial di televisi Dark Angel, Beverly Hils 9210 dan serial TV lainnya.

Atau mulai kapankah perempuan yang cantik itu digambarkan sebagai perempuan seksi yang berkulit matang seperti Beyonce Knowles, Halle Berry, Naomi Campbell, Alicia Keys, Rihanna? Atau mengapakah Gong Li mampu menundukkan Hollywood?

Tentu akan menarik jika dilakukan kajian kontestasi mayoritas dan minoritas di jagad dunia media. Bagaimana pertarungan wacana  tentang stereotipe minoritas di jagad media termasuk di dalam dunia perfilman. Apakah penjahat atau kriminal selalu digambarkan berkulit hitam, ataukah seorang teroris berjengot dan berwajah timur tengah, ataukah karena pengaruh politik ikut memainkan stereotipe terhadap kelompok-kelompok tertentu seperti dalam film? Sebutlah sejumlah film Hollywood yang menyudutkan Korea Utara seperti The Interview (2014),Salt (2010) yang dibintangi Angelina Jolie, Behind Enemy Lines II: Axis of Evil (2006), 007: Die Another Day (2002), Team America: World Police (2004). Atau bahkan dalam serial televisi kartun dari Amerika Serikat seperti South Park (2003) yang menyudutkan Korea Utara. Perlu dicatat, Trey Parker and Matt Stone yang merupakan kreator “South Park” kembali membawa kembali karakter Kim Jong Il ke layar lebar setahun kemudian dengan merilis ‘Team America: World Police’ pada 2004. Film animasi komedi ini hadir dengan gaya stereotipnya dengan menampilkan skuad anti teroris AS yang menyelamatkan dunia dengan mencegah pemusnahan masal oleh Kim Jong Il dalam Team America: World Police (2004). Atau bagaimana latar belakang Red Dawn (2012) yang mengambarkan stereotipe tentang Tiongkok. Begitulah dominasi kelompok mayoritas menentukan siapa kelompok yang akan “diminoritaskan”, namun di sisi lain harus mempertimbangkan pasar multikultural.  Keberadaan pasar multikultural inilah yang memberikan sisi keberadaan agensi dari pemain-pemain industri film yang memperhatikan aspek pasar multikultural yang melahirkan film-film terobosan dari tema-tema mainstream yang biasanya diusung oleh pemain dominan.

Referensi:

The Multicultural Edge: Rising Super Consumers, Nielsen, 2015 http://www.nielsencommunity.com/report_files/the-multicultural-edge-rising-super-consumers-march-2015.pdf. diakses 17 Maret 2017.

Nama saya Khan dan Saya Bukan Teroris, http://inet.detik.com/games-news/d-3117814/nama-saya-khan-dan-saya-bukan-teroris diakses 19 Maret 2017.

Sinopsi Film My Name is Khan, http://sinopsis-film-film.blogspot.co.id/2010/03/my-name-is-khan.html diakses 19 Maret 2017.

Halal Tourism: An Opportunity For Spain? , https://www.crescentrating.com/magazine/opinion/3885/halal-tourism-an-opportunity-for-spain.html diakses 19 Maret 2017.

Halal Tourism An Important Idea In Tourism Industry, http://www.huffingtonpost.co.uk/muhammad-zulfikar-rakhmat/halal-tourism-an-importan_b_12229662.html diakses 20 Maret 2017.

Perempuan dalam Sastra Indonesia, Antara Doxa dan Pelangengan Patriaki

Suatu hari saya me-reblog salah satu postingan di media sosial ke dalam media sosial saya. Tindakan re-blog semula saya pikir adalah satu tindakan yang sederhana. Postingan tersebut dalam pandangan saya terkait dengan salah satu topik yang menjadi konsen saya yaitu tentang minoritas. Isi postingan tersebut sebagai berikut:

Media: “After shooting at police the armed suspect was taken alive…”

Translation: The suspect is not Black

Media: “Terrorism is not suspected…”

Translation: The suspect is not Muslim

Media: “A hate crime is not considered a motive…”

Translation: The suspect is DEFINITELY white

Saya kemudian mencontohkan film-film Hollywood yang kerap kali menempatkan karakter terorisnya adalah orang Arab. “Itu sudah doxa, ” demikian komentar yang saya terima. Yup, doxa. Tanpa saya sadari saya telah terpapar film-film Hollywood yang kerap mengkonstruksi pemikiran saya bahwa teroris dalam film-film Hollywood adalah bangsa Arab. Sebutlah sejumlah film yang saya tonton belakangan di HBO dalam berbagai variannya seperti “London Has Fallen” yang sempat saya tonton dua kali yang mengambarkan terorisnya dari Yaman;  atau sejumlah film lainnya seperti “True Lies” (1994) yang dibintangi Arnold Schwarzenegger dan film yang lagi-lagi saya tonton berulang kali di HBO “Executive Decision “(1996) serta , ” Rules of Engagement “(2000). Film lainnya yang muncul setelah tragedi 9/11 adalah The Kingdom (2007) yang berkisah tentang tim FBI di bawah pimpinan Ronald Fleury (Jamie Foxx). Dikisahkan Fleury membangkang perintah atasannya dan terbang ke Arab Saudi,. Fleurymemaksa untuk menyidik kasus bom bunuh diri yang memakan banyak korban tewas warga AS, termasuk sahabat Fleury. Pelakunya, tentu saja teroris Islam. Hanya dalam tiga hari, tim ini memorakmorandakan jaringan teroris itu. Sedang polisi Arab sendiri gagal dan digambarkan tak tahu harus berbuat apa dalam menghadapi teroris. Jadi, secara kebetulan film Hollywood yang saya tonton mengambarkan terorisnya adalah muslim dan dicitrakan berkebangsaan Arab. Film Hollywood lainnya yang kebetulan saya tonton berulang kali di HBO adalah Dracula Untold yang lagi-lagi mengkonstruksikan pemikiran saya bagaimana buruknya pengambaran Hollywood terhadap Islam. Pemikiran itu muncul karena pengambaran pasukan muslim di film Dracula Untold yang kejam dalam membunuh dalam peperangan.

Begitulah akhirnya doxa melekat dalam pikiran saya. Pikiran saya telah dikuasai doxa sehingga pikiran saya kehilangan daya berpikir kritisnya sebagaimana telah diungkapkan oleh Douglas Kellner tentang arti penting berpikir kritis dalam mengurai isu tentang minoritas. Hingga tanpa saya sadari ada film-film Hollywood yang mencitrakan positif tentang Islam. Sebutlah sejumlah judul film Hollywood seperti Robin Hood (1991), Malcom X (1992), The 13th Warrior (1999), dan Three Kings (2000) – entah bagaimana Islam dicitrakan dalam film tersebut karena saya belum pernah secara langsung melihat film tersebut.

Bagaimana internalisasi doxa masuk ke dalam pemikiran kita? Pierre Felix Bourdieu menjelaskan bahwa doxa adalah sejenis tatanan sosial dalam diri individu yang stabil dan terikat pada tradisi serta terdapat kekuasaan yang sepenuhnya ternaturalisasi dan tidak dipertanyakan (Harker, 1990: xxi).  Bentuk konkrit dari doxa adalah pengetahuan-pengetahuan yang diterima begitu saja dan tidak dipertanyakan lagi. Doxa adalah kepercayaan dan nilai-nilai tak sadar, berakar mendalam, mendasar, yang dipelajari (learned), yang dianggap sebagai universal-universal yang terbukti dengan sendirinya (self-evident), yang menginformasikan tindakan-tindakan dan pikiran-pikiran seorang agen dalam ranah (fields) tertentu.

Setelah mengambarkan secara sekilas tentang doxa, mari kita kembali kepada bahasan kita tentang “Perempuan dalam Sastra Indonesia, Antara Doxa dan Pelangengan Patriaki” maka saya akan membawa diskusi kita pada periodesasi sastra Indonesia.

Secara urutan waktu maka sastra Indonesia terbagi atas beberapa angkatan:

Lantas doxa apa yang ditanamkan tentang Perempuan Indonesia dalam sastra Indonesia? Meskipun mengandung sejumlah doxa tentang perempuan, mengapa perempuan menyukai novel roman semacam itu?  Mengapa pula kita perlu mengetahui alasan perempuan menyukai membaca novel yang mengandung sejumlah doxa yang ditanamkan tentang perempuan?

Adalah Janice A. Radway yang melakukan riset dengan mengunakan perspektif reception studies.  Radway melakukan kajian tersebut dengan cara  melakukan wawancara dengan para wanita yang membaca roman itu dan menemui mereka secara teratur di dalam sebuah kelompok diskusi dengan para wanita tersebut. Radway menempatkan wanita yang membaca roman itu sebagai pihak yang aktif. Karenanya hal yang terpenting adalah mengetahui terlebih dulu mengapa mereka menyukai membaca roman itu. Lebih dari itu adalah mengetahui bagaimana mereka menginterpretasikan aksi dari prinsip-prinsip yang diungkapkan melalui berbagai karakter dan bagaimana mereka menerapkannya dalam kehidupan pribadi mereka (Radway, 1983:p.55-56).

Yang menarik, diluar dugaan temuan dari penelitian Radway adalah banyak dari pembaca tersebut yang menggunakan buku-buku (novel ) itu sebagai bagian dari perlawanan/pemberontakan diam-diam menentang dominasi laki-laki. Mereka membaca novel itu sebagai bentuk pelarian dari pekerjaan sebagai ibu rumah tangga dan kewajiban mengurus anak. Banyak dari mereka ini yang menolak asumsi-asumsi pokok terkait dengan mitos patriarki. Mereka menunjukkan kecenderungan kuat mendukung karakter pria yang memadukan antara maskulinitas tradisional dengan perilaku feminis, misalnya, kekuatan fisik yang dipadu dengan kelemahlembutan. Demikian pula, pembaca lebih menyukai karakter perempuan yang kuat yang bisa mengendalikan kehidupannya sendiri namun tetap mempertahankan atribut-atribut kewanitaannya. Dengan demikian pembacaan terhadap roman ini bisa diinterpretasikan sebagai bentuk resistensi pasif melawan budaya yang didominasi kaum laki-laki.

Kembali pada “Perempuan dalam Sastra Indonesia, Antara Doxa dan Pelangengan Patriaki”, akan menarik ketika kita runut bagaimana karakter perempuan digambarkan dalam sastra Indonesia. Bagaimana pada masa Pujanga Lama, dalam Hikayat Rama,  perempuan digambarkan dalam sosok Sinta yang suci trilaksita yaitu suci dalam ucapan, pikiran dan hatinya. Untuk membuktikan kesuciannya yang diragukan Rama, Sinta bahkan rela menerjunkan diri ke dalam bara api yang membara. Itulah doxa yang dibangun dar konstruksi budaya, telah terinternalisasi melalui hikayat tentang bagaimana perempuan harus berpikir dan berperilaku dalam membuktikan kesuciannya.

Doxa lain tentang perempuan yang terus diinternalisasikan dalam berbagai karya sastra Indonesia adalah sosok perempuan yang lebih mengutamakan perasaannya seperti dalam kisah Nyai Dasima. Bagaimana Nyai Dasima akhirnya terbujuk hasutan Mak Buyung.  Demikian pula pada kisah Siti Nurbaya, Mariamin dalam novel Azab dan Sengsara. Melalui metafora dua karakter wanita Tuti dan Maria, dua karakter perempuan digambarkan dalam Layar Terkembang.  Tuti yang merupakan sulung digambarkan sebagai sosok gadis yang pendiam, tegap, kukuh pendiriannya, jarang sekali memuji, dan aktif dalam organisasi-organisasi wanita. Sementara Maria digambarkan sebagai gadis yang periang, lincah, dan mudah kagum. Diakhir cerita, seperti diduga, Maria akhirnya meninggal karena sakit dan Tuti yang pendiam dan menjunjung tinggi kesucian akhirnya menikah dan bahagia (selama-lamanya).

Masih tentang doxa tentang kesucian bagi perempuan, lewat sejumlah penuturannya tentang plot di persidangan kasus tuduhan pemerkosaan yang dilakukan Fahru kepada Noura, salah satu peran perempuan dalam Ayat-Ayat Cinta karya Habbiburrahman El Shirazy. Karena Noura teramat luka hatinya saat Fahri memutuskan untuk menikah dengan Aisha. Di persidangan, Noura yang tengah hamil itu memberikan kesaksian bahwa janin yang dikandungannya adalah anak Fahri. Padahal janin yang dikandung Noura adalah buah dari pemerkosaan Bahadur – ayah angkatnya. Doxa menjaga kesucian bagi wanita adalah hal yang mutlak sebagai “prasyarat” akhir cinta yang bahagia semacam menjadi ramuan menarik bagi sastra di Indonesia. Noura menyesal atas perbuatan yang dilakukannya. Dengan jiwa besar Fahri memaafkan Noura. Uniknya, meski menempatkan perempuan dalam tatanan doxa tentang  bagi perempuan namun Ayat-Ayat Cinta karya Habbiburrahman El Shirazy  meraih penghargaan sebagai The Most Favorite Book 2005.

Doxa yang melekatkan kewajiban untuk menjaga kesucian hanya dilekatkan kepada perempuan. Mengapa tidak pernah ada seting kisah tentang laki-laki yang tidak menjaga kesuciannya akhirnya tertimpa kemalangan?  Internalisasi doxa  bahwa perempuan harus menjaga kesucian dan disisi lain menempatkan laki-laki sebagai pihak dominan, mengajarkan pada perempuan bagaimana mengidentifikasi teks-teks tersebut dan menolong mereka mengembangkan interpretasi yang sejalan dengan kepentingan mereka sendiri ketimbang  mengembangkan interpretasi yang kepentingan kaum elite patriaki.

Sebagai contoh misalnya, meski novel Ayat-Ayat Cinta sampai dicetak ulang, namun terkait dengan penerimaan poligami yang juga menjadi satu babak menarik dalam novel tersebut tetap berbeda. Ketika novel Ayat-Ayat Cinta booming, pada saat bersamaan terungkap isu poligami seorang Dai kondang. Namun penerimaan masyarakat terhadap poligami tetap berbeda.

Setidaknya bagi saya sendiri, saya melihat pemahaman tentang makna kewajiban menjaga kesucian bagi laki-laki nyaris terabaikan dalam sastra Indonesia. Padahal kewajiban menjaga kesucian untuk laki-laki sama persis dengan kewajiban menjaga kesucian bagi perempuan. Setidaknya dalam Al Quran hal tersebut telah ditegaskan berulang kali.

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman,’Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat’. Dan katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemauannya.” (QS An-Nur:30-31).

“Dan orang-orang yang tidak mampu kawin, hendaklah menjaga kesucian  (diri)nya sehingga Allah memberikan kepada mereka kemampuan dengan karunia-Nya.” (QS. An Nur : 33)

Doxa lain yang ditanamkan dalam sastra Indonesia adalah tentang bagaimana perempuan seharusnya bersikap dalam isu poligami ada dalam novel Istana Kedua karya Asma Nadia. Novel yang laris manis itu akhirnya difilmkan dengan judul “Surga Yang Tak Dirindukan.” Bagaimana doxa  perempuan wajib nrimo atau menerima kenyataan dipoligami meski terjadi pergolakan batin mengalir dalam adegan demi adegan.  Doxa tentang bagaimana seharusnya perempuan lain bersikap ketika mencintai suami orang lain juga dibangun melalui tokoh Meirose.

Cover novel Istana Kedua

Aku telah merampas sesuatu yang paling berharga dari hidupnya. Dan sangat wajar jika perempuan ini datang dengan segunung lahar api. Hm… koreksi. Aku tidak merampas apa pun, aku hanya memaksanya berbagi.” Demikian salah satu kutipan bait ucapan tokoh Meirose yang merupakan istri kedua dari Andika Prasetya, tokoh utama pria dalam novel Istana Kedua. Namun jika kita lihat dalam kisah nyata, apakah ada kesadaran semacam pemikiran Meirose?

Meirose, yang hamil diluar nikah hingga akhirnya memutuskan mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri – sebelum akhirnya diselamatkan oleh Prasetya bisa jadi meletakkan stereotipe tentang perempuan-perempuan yang tidak mampu menjaga kesuciannya dalam novel Istana Kedua.  Mengapa penulis menjaga stereotipe perempuan yang tidak mampu menjaga kesuciannya sebagai figur yang labil, mudah terguncang?  Padahal bila kita memakai dapat penelitian misalnya, dari hasil penelitian tahun 2008 menyebutkan bahwa dari 4.726 responden siswa SMP/SMA di 17 kota besar menunjukkan bahwa 62,7 persen tidak perawan, 21,2 persen mengaku pernah melakukan aborsi.   Lantas mengapa digambarkan stereotipe perempuan  yang tidak mampu menjaga kesuciannya sebagai sosok yang mudah putus asa dan labil dengan digambarkan dengan keputusannya untuk bunuh diri? Mengapa pula novel tersebut laris manis hingga akhirnya difilmkan? Mungkin hanya diri kita yang mampu menjawab.

Kedua, lewat tokoh pria,  Prasetyo, Asma Nadia “melanggengkan” stereotipe tentang pria sebagai sosok yang tidak setia terhadap janji dan mudah berkhianat. Bagaimana tidak? bayangkan saja untuk tipe  lelaki “sekaliber” Prasetyo yang digambarkan sebagai lelaki yang “lurus”, namun tetap punya kelemahan. Rasa kemanusiaan dan niat “hanya menolong” ternyata membawanya kepada pengkhianatan terhadap keluarga yang dicintainya sekaligus prinsip yang sekian lama dipegang teguh hingga akhirnya “rela” melakukan poligami meski Prasetyo sudah berjanji sebelum menikahi Arini untuk tidak melakukan poligami.

Setidaknya bagi saya pribadi yang memiliki dan membaca novel Istana Kedua, saya menyukai novel tersebut sebagai bentuk peneguhan, seharusnya – wanita idaman lain (WIL) bersikap ya seperti Meirose. Bukan sebaliknya. Meski dalam kenyataan sangat jarang perempuan yang memiliki kesempatan menjadi WIL bersedia dipoligami seperti Meirose. Kedua, karena saya seorang Ibu dari 3 putri, saya memiliki pandangan yang sama tentang kewajiban perempuan untuk menjaga kesuciannya. Andaipun akhirnya Arini dipoligami – itu adalah jalan hidup yang tidak dapat kita tentukan. Lantas bagaimana dengan anda? Sudahkah anda – perempuan khususnya membaca novel Istana Kedua? Apakah anda menyukainya? mengapa anda menyukainya?

Referensi:

Radway, Janice A.  “Women Read the Romance: The Interaction of Text and Context.”  In Dines & Humez.

Harker, R.K., Mahar, C. & Wilkes, C. (Eds), An Introduction to Pierre Boordieu, London,Macmillan. 1990.

62 Persen Remaja di Indonesia Tidak Perawan, http://www.tribunnews.com/regional/2012/11/12/62-persen-remaja-indonesia-tidak-perawan diakses 9 Maret 2017.

Ideologi Rasis dan Media: Sebuah Pemikiran Stuart Hall

Stuart Hall dalam kajiannya The Whites of Theor Eyes, Racist Ideologies And The Media berusaha menjawab bagaimana media menjadi tempat beroperasinya produksi dan transformasi ideologi dengan mengunakan pendekatan kritis. Media membantu menciptakan dan mengubah ideologi, termasuk didalamnya definisi dan gambaran tentang ras. Media melakukan hal tersebut melalui rasisme inferensial, yang mana hal tersebut merupakan representasi dari even atau peristiwa yang berkaitan dengan ras atau dengan kata lain rasisme yang terselubung.

Namun pada kajian ini, Stuart Hall tidak melihat bagaimana media melakukan intervensi terhadap pertarungan ideologi selama bertahun-tahun. Melainkan dengan mengunakan terminologi yang merefer pada gambaran tesebut, baik konsep maupun premis-nya menjadi kerangka berpikir untuk mengambarkan bagaimana kita merepresentasikan, menginterpretasikan, memahami dan menganggap masuk akal beberapa aspek sosial yang ada.

Ada 3 hal penting yang harus diperhatikan tentang ideologi yaitu: pertama, ideologi tidak terisolasi dan terpisah dari konsep-konsep. Melainkan merupakan artikulasi dari berbagai elemen yang berbeda menjadi satu kesatuan makna. Dalam perspektif liberal, ideologi adalah “kebebasan” yang berhubungan dengan individualisme dan pasar bebas. Dalam perspektif sosialis, ideologi adalah “kebebasan” akan berkaitan dengan kesadaran kolektif dan dan tergantung pada kondisi kesamaan dalam berbagai kondisi (:misalnya kesamaan kedudukan). Kedua, ideologi merupakan pernyataan yang dikeluarkan oleh individu tapi ideologi tidak diproduksi oleh pengakuan atau intensi dari individu. Ketiga,  ideologi bekerja dengan cara konstruksi terhadap subjek (individu dan kolektif). Berdasarkan tiga hal terkait ideologi inilah Hall kemudian mengambarkan bagaimana berbagai media yang berbeda menjadi tempat yang penting untuk memproduksi, mereproduksi, mentrnsformasikan ideologi (hal.17-19).

Media, menurut Hall tidak hanya memiliki peran penting dalam pembentukan ideologi melainkan tempat dimana ide-ide diartikulasikan, bekerja, ditransformasikan dan dielaborasikan. Dua jenis rasisme yang dihasilkan media, lanjut Hall adalah: pertama, overt racism yaitu rasisme yang dikemukakakn secara terang-terangan mengeluarkan pandangan dan politik rasis. Rasisme kedua adalah inferential racism yaitu rasisme yang terselubung melalui penyajian fakta maupun non-fakta yang sifatnya nampak natural dan tidak terkesan rasis. Ditegaskan Hall, inferential racism lebih berbahaya dari overt racism karena tidak dapat diprediksikan(hal.20).

Jadi pemikiran Stuart Hall ini dengan jelas mengambarkan bagaimana representasi yang dilakukan media mengkonstruksikan ideologi, yang mana akhirnya bagaimana ideologi itu membentuk persepsi mengenai realitas. Hal inilah yang menyebabkan media merupakan alat hegemoni yang kuat karena media memiliki kekuatan untuk mengkonstruksikan ideologi, membentuk persepsi dan pada gilirannya nanti mengkonstruksikan realitas termasuk didalamnya bagaimana media “mengekalkan” stereotipe-stereotipe tentang berbagai hal misalnya dalam berbagai contoh seperti dalam film seri TV  Gone With the Wind, film seri TV Starsky and Hutch. Jadi, media tidak hanya merupakan sumber yang dominan dari munculnya ide-ide tentang ras, melainkan juga merupakan tempat dimana ide-ide tersebut diartikulasikan, bekerja, ditransformasikan dan dikembangkan.

scarletthat

Sebagai contoh dalam film seri Gone With the Wind secara dalam dan tertanam dalam benak kita, seperti apakah karakter “perempuan nakal” itu. Kurang lebih dalam gambaran kita suka bermain mata, mandiri, mudah jatuh cinta, kekanak-kanakan. Dalam dan mampu mencapai alam bawah sadar kita inilah yang disebut stereotipe. Misalnya jika kita melihat perempuan mengerlingkan mata, maka secara langsung kita melakukan stereotiping bahwa perempuan itu adalah perempuan nakal, padahal bisa jadi perempuan itu misalnya memiliki kelainan mata bawaan.

Orang kulit hitam yang digambarkan sebagai budak dalam film Gone With the Wind juga melangengkan stereotipe orang kulit hitam sebagai orang termarginalkan karena kulit hitam di film seri tersebut digambarkan sebagai budak-budak. Demikian pula dengan film seri Starsky and Hutch yang senantiasa mengambarkan orang kulit hitam sebagai pengedar narkoba yang hidup di lingkungan kumuh sedangkan polisi yang hebat itu berkulit putih dan tampan yang diperankan Owen Wilson. Kecantikan wanita di Starsky and Hutch juga digambarkan sebagai wanita yang langsing, berkulit putih dan berambut pirang atau coklat.

1471468390_1

Sebenarnya tidak hanya kedua film seri TV tersebut yang menjadi bukti bahwa media merupakan alat hegemoni yang kuat dalam menanamkan ideologi rasis. Film serial TV lainnya yang menanamkan ideologi rasis lainnya seperti The A Team.  The A Team adalah serial televisi aksi petualangan komedi yang mengisahkan tentang sekelompok mantan anggota Pasukan Khusus Angkatan Darat Amerika yang bekerja sebagai tentara bayaran, sementara itu mereka selalu melarikan diri dari pengejaran pihak Polisi Militer.

key_art_the_a_team

Film serial TV ini menanamkan stereotipe tentang kulit putih dan negro/kulit hitam lewat tokoh-tokoh utama dalam serial ini. Stereotipe kulit putih digambarkan lewat tokoh Kolonel Hannibal yang cerdas dan ahli di bidang taktik. Stereotipe kulit putih lain dihadirkan lewat sosok anggota The A Team lainnya yaitu Letnan Faceman yang tampan, cerdik dalam menipu sehingga dapat memperoleh apa saja dan tidak suka berkelahi. Di sisi lain stereotipe tentang kulit hitam digambarkan lewat sosok B.A. (Mr.T) yang berkulit hitam, berwajah jauh dibawah Faceman dan Hannibal, berperangai kasar dan suka marah serta memiliki kebiasaan berkelahi dengan Murdock. “B.A.” sendiri adalah julukan yang  berarti “Bad Attitude” atau berperangai buruk. Tak hanya itu, penjahat-penjahat lawan The A Team kerap kali digambarkan sebagai orang Timur-Tengah seperti pembantunya Saddam Husein  yang membuat plat uang palsu dollar Amerika Serikat.

Referensi:

Hall, Stuart. “The White of Their Eyes : Racist Ideologies and the Media.” In Dines & Humez

The Nature of Predujice

https://images-na.ssl-images-amazon.com/images/I/81nGnol5U6L._AC_UL320_SR206,320_.jpg
sumber  foto: https://images-na.ssl-images-amazon.com/images/I/81nGnol5U6L._AC_UL320_SR206,320_.jpg

Pernahkah kita berprasangka dalam berkomunikasi? Misalnya saja saat di jalan kita ingin bertanya pada orang tempat tujuan kita. Ada pilihan orang kulit hitam dengan penampilan menyeramkan dan pilihan lainnya adalah wanita dengan pakaian kerja rapi, manakah yang kita pilih sebagai orang yang akan kita tanya? Jika kita menghindari untuk bertanya pada orang yang kulit hitam dengan penampilan menyeramkan, maka kita telah berprasangka.

Begitulah prejudice atau prasangka yang kerap kali tidak masuk akal. Sebagaimana dikemukakan Gordon W. Allport (1954) seorang psikolog yang menjelaskan bahwa prasangka termasuk sikap, baik itu sikap positif maupun sikap negatif, yang tidak masuk akal karena pengaruh emosional. Prejudice berasal dari kata praejudicium. Mengapa prasangka bisa terjadi? karena adanya penilaian yang tidak mendasar sehingga terjadi penyimpangan dari kondisi seharusnya. Lebih lanjut Allport menjelaskan bahwa prasangka adalah pernyataan atau kesimpulan tentang sesuatu berdasarkan perasaan atau pengalaman yang dangkal terhadap orang atau kelompok tertentu.

Jadi, prasangka adalah antipati berdasarkan generalisasi yang salah atau tidak luwes. Antipati itu dapat dirasakan atau dinyatakan. Antipati itu bisa langsung ditujukan kepada kelompok atau individu dari kelompok tertentu. Pendek kata prejudice adalah sikap antipati bukan sekedar antipati pribadi tetapi antipati kelompok. Allport menandaskan bentuk prejudice kelompok tersebut dengan mengambil gambaran kondisi Amerika Serikat, yang selama 124 tahun menerima imigran kurang lebih 40.000.000 dan 1.000.000/tahunnya. Imigran tersebut 85% diantaranya berasal dari Eropa. Sedang imigran kulit hitam (negro) adalah minoritas. Kelompok minoritas dengan sendirinya mengikuti dominasi kelompok mayoritas dan mengikuti bahasa, tata susila, moralitas dan hukum.

Scapegoat atau sikap mengkambing hitam-kan adalah salah satu contoh dari bentuk antipati tersebut.  Yahudi merupakan kelompok yang sering dikambinghitamkan pada masa Hittler di Jerman.

Pada buku ini, Allport mengemukakan ada 5 perspektif yang dapat kita gunakan untuk meneliti tentang prasangka yaitu:

  1. Perspektif historis atau telusur sejarah. Perspektif ini mendasarkan pada konsep tentang pertentangan kelas. Kelas atas dianggap memiliki hak untuk menyalahkan kelas bawah. Contohnya prasangka terhadap orang yang berkulit putih terhadap negro di amerika serikat. Yang berawal dari sejarah perbudakan orang-orang negro pada sekitar 300 tahun yang lalu. Walaupun saat ini orang orang-orang negro sudah bangkit tetapi tetap saja orang-orang berkulit putih menganggap orang negro sebagai manusia yang kedudukannya lebih rendah daripada orang berkulit putih.
  2. Perspektif sosiokultural dan situasional. Pespektif ini menekankan kondisi saat ini sebagai faktor timbulnya prasangka.
  3. Perspektif kepribadian. Prasangka lebih disebabkan adanya tipe kepribadian yang berbeda-beda tiap individu.
  4. Perspektif fenomologis yaitu perspektif menekankan pada cara pandang individu untuk memersepsikan lingkungannya sehingga persepsilah yang menimbulkan prasangka.
  5. Perspektif naive yaitu yang mengurai prasangka dari sudut pandang masing-masing individu terhadap pihak lain yang menjadi lawannya.

Referensi:

The Scapegoats Theory (Allport, 1954)

https://drive.google.com/file/d/0B7MJaW8bHr7YUFVCVTVCOFNFNE0/view

Gordon W. Alport, The Nature of Predujice, http://faculty.washington.edu/caporaso/courses/203/readings/allport_Nature_of_prejudice.pdf.

Gendering the Commodity Audience: Critical Media Research, Feminism, and Political Economy

laki-penentu

Foto diambil disini http://media.gettyimages.com/videos/dolly-shot-couple-sitting-on-couch-watching-tv-laughing-talking-man-video-id437-109?s=640×640

Eileen R. Meehan dalam Gendering the Commodity Audience (2002, dalam Kellner, 2005) membuka diskusinya dengan menjelaskan bahwa pada tahun 1970-an hingga 1980-an, penelitian tentang media, dikategorikan menjadi dua jenis yaitu penelitian media mainstream/klasik dan penelitian kritis. Penelitian dengan mengunakan klasik/mainstream misalnya penelitian cultural studies seperti yang dilakukan oleh Grossberg dan Mc.Chesney. Penelitian kritis misalnya yang mengkaji media dari perspektif ekonomi politik seperti yang dilakukan oleh Mosco dan Wasko. Di sisi lain ada juga perspektif feminismis seperti yang dilakukan oleh H. Leslie Steeve’s. Guna memediasi kedua pendekatan tersebut, Meehan menyatukan keduanya dengan menambahkan elemen feminisme. Mengapa Meehan menyatukan kedua pendekatan tersebut? Karena menurut Meehan, untuk mengkaji dominasi struktur, maka kita perlu menghubungkan struktur yang satu dengan struktur yang lain.  Eileen  R. Meehan membawa kita pada diskusi  tentang patriarki dan kapitalisme yang menurut Meehan sama pentingnya. Karena kajian patriarki dan kapitalisme telah lama terjalin dalam sejarah perkembangannya. Dominasi dari penonton laki-laki mencerminkan patriarki dan overvaluing khalayak kelas atas mencerminkan kapitalisme klasik. Karenanya untuk memahami kapitalisme membutuhkan pendekatan ekonomi politik dan memahami patriarki membutuhkan kajian budaya.

Kajian yang dilakukan Meehan tentang audiens sebagai komoditas berbeda dengan kajian audiens sebagai komoditas dari perspektif ekonomi politik seperti yang dilakukan Smythe, Murdock dan yang lainnya. Perbedaan tersebut terletak pada jika kajian yang dilakukan dari perspektif kritis seperti Smythe, mengkaji relasi kuasa dalam satu rangkaian sistem yaitu produksi, distribusi dan konsumsi. Fokus kajian Smythe dalam mengkaji audiens sebagai komoditas adalah pasar, sedang Meehan adalah feminimisme, yang mana Meehan berupaya melihat hubungan antara sistem patriaki dan sistem kapitalisme dari perspektif feminisme.

What do the media make? Pertanyaan ini membawa kita kembali ke perdebatan “buta” pada akhir  tahun 1970-an. Dallas Smythe berteori bahwa kebanyakan studi budaya (penelitian kritis) melihat media sebagai industri kesadaran, teks manufaktur yang mewujudkan ideologi dominan. Rata-rata penonton kemudian mengadopsi ideologi ini sampai diserap ke dalam akal sehat. Pada bagian ini  Meehan mengkritik pendekatan Marxis Barat terhadap media, yang menurut Meehan lupa bahwa komoditas yang paling penting bagi institusi media  bukan ideologi, bukan teks, bukan gambar, atau pesan, tapi penonton. Para penonton adalah salah satu komoditas yang menyatukan semua elemen dalam institusi media.

Lantas apa yang membedakan pandangan Meehan dengan Smythe tentang audiens? Smythe  assumed that the audience commodity and the viewership were identical. Sementara Meehaan berpendapat berbeda, yaitu The commodity audience is not an audience manufactured into a commodity into a commodity, rather ultimately, a commodity which is markerted as an audience.  Pendek kata, Meehan berpandangan audiens itulah pada akhirnya yang “dipasarkan” sebagai komoditas bukan audiens yang ditetapkan oleh media melainkan audiens yang menonton. Jadi apa konsekuensi berikutnya tentang perbedaan asumsi tentang audiens dari Meehan yang berbeda dengan Smythe tersebut? Pertama, adanya shared demand yang mana jaringan media dan pengiklan sama-sama membutuhkan data tentang audiens potensial bagi mereka. Jaringan media membutuhkan rating untuk mengetahui harga dari tiap slot waktu, sedang pengiklan membutuhkan ratings untuk mengetahui pada program apa mereka akan membelanjakan anggaran iklan mereka. Karena itu Meehan kemudian menyarankan penyebutan “consumer taste” kedua kepentingan tersebut.  Kedua, adanya hubungan antara permintaan dengan harga. Akibatnya terjadi perang harga dan adanya pembedaan rating berdasarkan kelompok usia dan demografi lainnya.  Ketigathe cybernetic nature of commodity audiece atau kondisi yang terjadi ketika audiens sebagai komoditas dihitung nilainya dan secara tetap menjadi termanipulasi oleh rating. Keempat, The Television’s commodity audience had nothing to do with people who watched television atau audiens yang menjadi komoditas tidak ada hubungannnya dengan penonton televisi. Jadi berbeda antara comodity audience dengan audience comodity, jadi berbeda antara data tentang jumlah penonton yang menonton dengan data  dibangun yang diasumsikan menonton televisi. Pemahaman mudahnya misalnya media penyiaran mengklaim target audiens mereka adalah ibu rumah tangga misalnya seperti Indosiar sehingga menayangkan program-program sinetron, yang tentu berbeda dengan TV-One sebagai TV berita misalnya, audiens yang menjadi target tentu berbeda. Namun bukan audiens seperti itu yang menjadi komoditas, menurut Meehan melainkan audiens yang benar-benar menonton TV tersebut sehingga dipergunakanlah mekanisme ratings.

Lebih lanjut Meehan berpandangan bahwa terdapat dominasi kelas dalam industri media, di mana selera khalayak sebagai konsumen diarahkan sesuai dengan keinginan para pemilik media melalui konten yang disajikan oleh media yang dimilikinya. Selain itu, dominasi menurut Meehan adalah dominasi berdasarkan kelas gender antara laki-laki dan perempuan. Meehan mengacu pada pemikiran feminisme dan Meehan menemukan salah satu penyebab mengapa perempuan cenderung lebih konsumtif terhadap media adalah karena adanya sistem patriaki yang berlaku di masyarakat. Sistem patriaki yang berlaku di masyarakat tersebut menyebabkan  sebagian besar perempuan tidak diperbolehkan mencari nafkah dan hanya diam di rumah sehingga berpeluang untuk mengkonsumsi media lebih banyak dari laki-laki yang menghabiskan waktunya bekerja di luar rumah. Audiens secara umum dijadikan sebagai komoditas penting oleh pemilik media untuk mendukung keberlangsungan media itu sendiri. Sedang dari sisi kapitalisme, jika sebuah media mampu menyajikan tontonan yang menarik audiens, artinya media tersebut akan meraup audiens dalam jumlah besar, maka akan semakin banyak pihak yang memasang iklan di media tersebut, media pun pada akhirnya akan mendapatkan rating yang tinggi. Hal ini tentu saja berdampak pada kondisi ekonomi media itu sendiri yaitu pencapaian profit yang tinggi, serta aspek politik di mana media memegang kekuasaan dominan atas audiens. Audiens secara tidak sadar telah menjadi korban penindasan yang disebut dengan kekerasan simbolik oleh Bourdieu (1986, dalam Kellner,2005). Singkat kata dari sisi kapitalisme, peringkat rating yang menentukan program. Namun menariknya, strukur dari  audiens sebagai komoditas beranggapan bahwa laki-laki yang memegang kontrol pendapatan maupun pengeluaran uang dan hal itulah yang menyebabkan mereka (:laki-laki) menjadi audiens yang menjadi komoditas (Meehan, 319). Jadi struktur televisi mendiskriminasi siapapun itu diluar dari  penonton kulit putih, berusia 18-34 tahun,  heterosexual, pria kulit putih dari kalangan atas dan berbahasa Inggris.

Tampaknya, studi Meehan yang melihat audiens sebagai komoditas  (dan rating sebagai komoditas) dari perspektif gender ini dengan cara menguji audiens sebagai komoditas yang diuraikan Smythe, Murdock dan Livant yang melihat dari perspektif ekonomi politik untuk melihat dinamika dari sistem patriaki dan sistem kapitalisme ini  dengan melakukan pengamatan empirik terhadap TV Nasional Amerika dan buktinya berupa program-program di TV Nasional Amerika seperti Miami Vice membuktikan bahwa kapitalisme melanggengkan patriaki. Kajian Meehan membuktikan adanya hegemoni patriarki atau yang dapat digambarkan sebagai sebuah sistem relasi kuasa yang hierarkis dan tidak setara dimana laki-laki lebih dominan dari perempuan – di media massa (dalam penelitian Meehan ada di industri televisi). Sebagai contoh, bagaimana sosok laki-laki yang digambarkan gagah, hebat, yang dipersonifikasikan oleh Don Johnson yang memerankan detektif James “Sonny” Crockett.

Sebagai gambaran bagaimana kapitalisme melanggengkan patriaki, dengan mengambil contoh serial Miami Vice, guna mendapatkan kepuasan dari penonton dan rating yang tinggi maka dalam serial TV Miami Vice menampilkan patron yang merupakan “consumer taste”.  Disisi lain, melalui karakter figur-figur yang ada di serial TV tersebut, patriaki dilanggengkan. Dominasi pria di”suntikkan” ke benak penonton melalui figur yang diperankan Johnson memperlihatkan bagaimana “hebatnya” seorang laki-laki yang mampu pulih dari lukanya (termasuk luka psikologis) akibat kematian patner/pasangan Johnson dalam bertugas sebelumnya. Karakter “super” yang digambarkan melalui sosok Johnson, saat muda merupakan seorang bintang sepakbola dari Universitas Florida, bertugas di Angkatan Darat Amerika Serikat, pernah bertugas di perang Vietnam. Ketangguhan laki-laki digambarkan melalui sosok Johnson yang berulangkali kehilangan patnernya  yang terbunuh saat bertugas dan ketangguhannya saat bertugas.  Sementara sosok wanita yang digambarkan sebagai sosok yang lemah melalui figur Caitlin – pacar Johnson yang diculik dan akhirnya dibunuh oleh pembunuh patner tugas Johnson.

Referensi:

Eileen R. Meehan, Gendering the Commodity Audience: Critical Media Research, Feminism, and Political Economy dalam Meenakshi Gigi Durham and Douglas M. Kellner, Media and Cultural StudiesKeyWorks Revised Edition, Malden, USA, Blackwell Publishing, 2006, hal.311-322, https://drive.google.com/…/0ByKz7pWIHCoVeWpET3JtNDBZRU0/view

#SIK041 #minoritas